KOMPAS
Sabtu, 20 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Zelaya Masih Cari Landasan
Senin, 6 Juli 2009 | 02:37 WIB
AFP/JOSE CABEZAS
Para pendukung Manuel Zelaya, presiden terguling, menantikan kedatangan Zelaya di Bandara Internasional Toncontin di Tegucigalpa, Honduras, Sabtu pekan lalu. Zelaya berniat pulang dari pengasingan pada hari Minggu (5/7).
TERKAIT:

TEGUCIGALPA, KOMPAS.com - Presiden terguling Manuel Zelaya berusaha kembali ke Honduras, Minggu (12/7), sepekan setelah militer mendongkelnya, di tengah kekhawatiran mengenai bentrokan setelah para pemimpin kudeta mengancam menangkapnya bila ia pulang.
      
Organisasi Negara Amerika (OAS) membekukan keanggotaan Honduras pada Sabtu malam, dalam langkah pertama semacam itu sejak Kuba dikeluarkan pada 1962, karena kegagalan negara itu memulihkan lagi kekuasaan Zelaya.
      
Tidak jelas tempat pesawat Zelaya akan melakukan pendaratan, setelah para pemimpin sementara -- yang mengambil alih kekuasaan setelah pasukan mengirim Zelaya ke Costa Rica -- melarang pesawat pemimpin terguling itu mendarat.
      
Pasukan mengepung bandara utama di ibu kota, sementara perusahaan penerbangan internasional menghentikan operasi penerbangan. Ribuan pendukung Zelaya dari berbagai penjuru negeri itu juga bersiap-siap berkumpul di sana.
      
Di Washington, 33 dari 34 anggota OAS setuju membekukan keanggotaan Honduras dalam sidang luar biasa pada Sabtu larut malam. "Pemerintah de fakto di Tegucicalpa tidak mau memulihkan kekuasaan Zelaya," kata pemimpin OAS Jose Miguel Insulza pada sidang tersebut.
      
Anggota-anggota organisasi Amerika itu mengecam para pemimpin kudeta militer yang mendongkel Zolaya pada Minggu lalu pada puncak perselisihan dengan pengadilan, politikus, dan militer menyangkut rencana presiden itu mengubah konstitusi."Saya sangat optimistis karena setiap orang tidak mengakui dan menolak aksi ini," kata Zelaya di Washington, dengan menekankan bahwa negaranya berada "di bawah sebuah rejim teror".
      
Namun, para pemimpin sementara Honduras hingga Minggu tetap membangkang. "Pendaratan pesawat yang akan membawa mantan presiden itu dilarang," kata Menteri Luar Negeri Enrique Ortez menjelang rencana kedatangan Zelaya sekitar tengah hari.
      
"Tidak masalah siapa yang mendampinginya, apa pesawatnya, pendaratannya tetap dilarang," kata Ortez.
      
Zelaya telah menyatakan, ia akan didampingi oleh sekelompok pemimpin Amerika Latin dan pejabat lain.
      
Pesawat itu dijadwalkan meninggalkan Washington sekitar pukul 10.00 waktu setempat (pukul 21.00 WIB), dan akan tiba di Honduras sekitar pukul 15.00 (Senin pukul 04.00 WIB), menurut Carlos Sosa, mantan duta besar untuk OAS.
      
Setelah sepekan protes yang umumnya tenang, yang dilakukan oleh pendukung dan penentang Zelaya, ribuan pendukung -- banyak diantaranya dari serikat buruh dan kelompok-kelompok pribumi -- berkumpul di ibukota.
      
Dalam suasana kecurigaan dan amarah, banyak dari pendukung itu menyatakan siap melakukan kekerasan demi kembalinya Zelaya.
      
Para pemimpin Katolik di Honduras memperingatkan Sabtu akan kemungkinan terjadinya kekerasan dan meminta Zelaya mempertimbangkan ulang rencana kepulangannya. "Kami rasa kembali ke negara pada saat ini bisa menyulut petumpahan darah," kata Kardinal Oscar Rodriguez -- uskup agung di Tegucigalpa -- kepada televisi dan radio nasional.
      
Insulza juga sependapat bahwa rencana Zelaya kembali ke Honduras berisiko. "Jika anda bertanya apakah kepulangan itu aman, tentu saja tidak," kata pemimpin OAS itu kepada wartawan.
      
Sejumlah bentrokan terjadi antara pasukan dan demonstran pada pekan protes, baik yang dilakukan oleh pendukung maupun penentang Zelaya.
      
Tidak jelas berapa orang yang cedera atau ditangkap selama protes itu, di tengah amarah yang meningkat dari kelompok-kelompok hak asasi internasional.

Penulis: XVD   |     |   Sumber : Ant Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.