WASHINGTON, KOMPAS.com - Amerika Serikat menghentikan semua kegiatan ketentaraan dengan Honduras sampai pemberitahuan lebih lanjut, kata juru bicara Pentagon pada Rabu (1/7), beberapa hari Presiden Manuel Zelaya digulingkan oleh kup.
"Kami menangguhkan kegiatan apa pun di Honduras sekarang juga sambil menilai keadaan," kata Bryan Whitman kepada wartawan, dengan menambahkan bahwa ia merujuk pada hubungan di antara angkatan bersenjata kedua negara tersebut.
Presiden Zelaya mengajukan perkaranya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa, meminta dukungan dunia dalam usahanya bagi pemulihan kekuasaannya sementara ia berencana pulang ke negaranya.
Zelaya berpidato di Majelis Umum badan dunia itu segera setelah badan beranggotakan 192 negara itu menyetujui dengan suara bulat resolusi mengecam kudeta pimpinan tentara dan menuntut pemulihan kembali "tanpa syarat dan segera" jabatan Zelaya. Resolusi itu mengecam kudeta tersebut, yang mengakibatkan penggulingan presiden pilihan secara demokratis itu.
Zelaya (57 tahun) ditangkap di rumahnya pada Minggu pagi oleh pasukan Honduras dan langsung dinaikkan ke pesawat ke Kosta Rika setelah terjadi ketegangan dengan tentara dan pengadilan menyangkut rencananya dapat bertarung bagi masa jabatan kedua pada Nopember mendatang.
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu menuntut pemulihan segera dan tanpa syarat pemerintah sah dan konstitusional presiden republik itu dan pemerintah, yang dibentuk secara sah di Honduras, sehingga ia dapat memenuhi manat, yang diperoleh dari rakyat Honduras melalui pemilihan umum.
Resolusi itu juga menyeru semua negara mengakui bahwa tidak ada pemerintah selain dari presiden konstitusional, yaitu Jose Manuel Zelaya dan menyatakan dukungan bagi usaha kawasan, termasuk oleh Organisasi Negara Amerika (OAS), untuk menyelesaikan kemelut politik tersebut.
Zelaya, yang dipilih untuk masa jabatan empat tahun pada 2005, menyambut resolusi itu dan menyatakan sama dengan kecaman OAS serta kelompok lain kawasan tersebut.
Ia dalam pertemuan kelompok kawasan di Nikaragua pada Senin menyatakan berencana pulang ke Honduras pada Kamis. "Saya akan ke Tegucigalpa pada Kamis," kata Zelaya, yang diduga dapat menimbulkan ketegangan dengan pemerintah baru pimpinan Roberto Micheletti.
Zelaya juga menerima tawaran dari Jose Miguel Insulta, ketua OAS, mendampingi ia pulang ke Honduras, bersama dengan pemimpin lain negara sahabat, yang juga ingin ikut mendampinginya.
Dalam pidatonya di Mejelis Umum, Zelaya membela kepemimpinannya dan menyalahkan penggulingannya pada elit Honduras, yang menduga ia berusaha melepaskan sistem hak istimewa, yang mereka pegang.
Utusan Amerika Serikat Rosemary DiCarlo menyatakan Washington akan terus berusaha melalui OAS memutuskan cara terbaik untuk mendukung rakyat Honduras, sementara mereka berusaha memulihkan secara damai pemerintah konstitusional. "Kami menyeru masyarakat antarbangsa menentang setiap campur tangan pihak luar dalam alur itu," tambahnya.
Presiden Venezuela Hugo Chavez mendesak Zelaya menemui Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan mengatakan bahwa perhatian presiden nebara adidaya itu terhadap masalah tersebut dapat menjadi pukulan penting atas pelaku penggulingan Zelaya.
Unjuk rasa meletus di ibukota Honduras, Tegucigalpa, pada Senin saat ratusan pendukung Zelaya mengabaikan jam malam, yang diberlakukan pemerintah, menyingkirkan penghalang di dekat istana presiden.
