Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 07:32 WIB
"Sihir" Debat Ada di Penampilan, Bukan Substansi
Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 1 Juli 2009 | 15:33 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Karakter masyarakat Indonesia masih mengutamakan pilihan pada penampilan calon presiden dan wakil presiden, bukan pandangan serta visi-misi yang diemban. Debat capres maupun cawapres diprediksi tidak akan memengaruhi pemilih akan pilihannya kepada salah satu calon.

Pengamat marketing politik, Firmanzah, mengatakan, dalam konteks masyarakat Indonesia, masih terpengaruh pada unsur behaviour atau perilaku yang mereka lihat pada calon.

"Masyarakat Indonesia lebih dipengaruhi behaviour. Saat debat, mayoritas masyarakat masih melihat bagaimana cara calon menjawab, lugas atau tidak, bahasa tubuhnya seperti apa. Dibandingkan melihat konten kebijakan yang akan diterapkan," kata Dekan FE Universitas Indonesia ini pada diskusi mingguan di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (1/7).

Padahal, salah satu indikator efektif atau tidaknya debat adalah bagaimana konten dan substansi yang ditawarkan calon. Seharusnya, menurut pria yang akrab disapa Fiz ini, masing-masing calon bisa menampilkan gaya yang berbeda untuk membedakan menangkap substansi yang disampaikan.

"Misalnya, incumbent itu seharusnya gaya bertahan. Non-incumbent memaparkan apa kelemahan incumbent. Kita harus menunjukkan bahwa debat itu bukan sesuatu menakutkan sehingga mereka takut berdebat," ujarnya.

Ekonom, Aviliani, yang sempat menjadi moderator debat capres juga mengakui tradisi debat yang belum membudaya membuat para calon enggan menunjukkan perbedaan. "Karena masyarakat kita suka pada penampilan, bukan substansinya," kata Aviliani.