Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:24 WIB
Debat Capres-Cawapres bak Monolog Butet
Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 1 Juli 2009 | 15:12 WIB
|
Share:

BACHREN/MPMC
Suasana debat Cawapres II di Bidakara, Jakarta.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Debat capres-cawapres sudah berlangsung empat sesi. Namun, keempat debat tersebut masih dinilai jauh dari sempurna. Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi Latief, mengatakan, debat yang sudah berjalan memiliki banyak kelemahan dari berbagai sisi.

"Debat capres-cawapres ini sejak awalnya memang sudah memiliki kelemahan. Penetapan tema debat oleh KPU justru memilih tema yang tidak menarik diperdebatkan. Hal-hal penting malah tidak dijadikan tema debat," kata Yudi pada diskusi Mengukur Efektivitas Debat Capres/Cawapres, di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (1/7).

Esensi debat, menurut Yudi, akan hidup jika memenuhi sejumlah unsur, di antaranya ada konfrontasi. Konfrontasi pandangan antarcalon akan membuat masyarakat melihat diferensiasi masing-masing.

"Tanpa ada konfrontasi sama saja dengan monolog Butet, masing-masing ngomong sendiri," ujar Yudi.

Untuk memenuhi unsur konfrontasi ini, harus diposisikan proposisi tema yang jelas. Dari empat debat, menurut dia, tema debat capres kedua mengenai pengentasan kemiskinan dan pengangguran merupakan tema yang spesifik. Tema seperti ini dinilai mendorong adanya pendalaman dari sesi ke sesi.

Selain itu, debat yang disiarkan stasiun televisi secara bergantian itu, seharusnya melibatkan pemirsa. Secara umum, empat debat yang berlangsung tidak ada yang memenuhi unsur ideal dari sebuah ajang debat pemilu presiden.

"Secara umum nyaris tidak terpenuhi semua syarat ideal sehingga publik tidak melihat kekokohan visi-misi calon. Kalau ada saling 'gosok', orang akan tahu dan mendapatkan pengetahuan dari sebuah debat," ujar Yudi.