SEMARANG, KOMPAS.com - Pengamat media Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang, Triyono Lukmantoro, Selasa (30/6) mengemukakan, menjelang pelaksanaan pemilihan Presiden RI, media massa bisa terkena sindrom Berlusconi.
"Dari banyak problem yang dihadapi media dalam menjaga netralitas setiap kali terjadi pemilihan umum, baik itu legislatif maupun pemilihan presiden, maka kepemilikan modal merupakan masalah yang paling krusial mempengaruhi netralitas media," kata Triyono Lukmantoro pada diskusi Netralitas Media menuju Pilpres Berkualitas yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia di Semarang.
Triyono Lukmantoro mengatakan, kasus Berlusconi begitu populer ketika berkampanye pada pemilihan perdana menteri di Italia tahun 1994. Saat itu, Berlusconi menjadi tokoh penting dalam dunia penyiaran Italia.
Kepemilikan media telah digunakan sebagai mesin politik, sebagai figus sentral yang melahirkan konsep amat peyoratif (kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah) yakni sindrom Berlusconi. Dia mampu menikmati kekuasaan dalam derajat tinggi menggunakan televisi swasta atau televisi publik untuk kepentingan politiknya, tanpa membayar.
Di Indonesia, gejala itu juga nampak menjelang pilpres ini meskipun terlalu vulgar. Karena harus diakui, terdapat pemilik modal media yang menjadi pendukung pasangan capres dan cawapres tertentu, yang bila tidak dikontrol akan membenamkan netralitas media hanya untuk kepentingan kekuatan personal, politik dan bisnis segelintir elite saja.