KOMPAS
Minggu, 21 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Awas, Media Kena Sindrom Berlusconi
Laporan wartawan KOMPAS Winarto Herusansono
Selasa, 30 Juni 2009 | 14:12 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Pengamat media Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang, Triyono Lukmantoro, Selasa (30/6) mengemukakan, menjelang pelaksanaan pemilihan Presiden RI, media massa bisa terkena sindrom Berlusconi.

"Dari banyak problem yang dihadapi media dalam menjaga netralitas setiap kali terjadi pemilihan umum, baik itu legislatif maupun pemilihan presiden, maka kepemilikan modal merupakan masalah yang paling krusial mempengaruhi netralitas media," kata Triyono Lukmantoro pada diskusi Netralitas Media menuju Pilpres Berkualitas yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia di Semarang.

Triyono Lukmantoro mengatakan, kasus Berlusconi begitu populer ketika berkampanye pada pemilihan perdana menteri di Italia tahun 1994. Saat itu, Berlusconi menjadi tokoh penting dalam dunia penyiaran Italia.

Kepemilikan media telah digunakan sebagai mesin politik, sebagai figus sentral yang melahirkan konsep amat peyoratif (kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah) yakni sindrom Berlusconi. Dia mampu menikmati kekuasaan dalam derajat tinggi menggunakan televisi swasta atau televisi publik untuk kepentingan politiknya, tanpa membayar.

Di Indonesia, gejala itu juga nampak menjelang pilpres ini meskipun terlalu vulgar. Karena harus diakui, terdapat pemilik modal media yang menjadi pendukung pasangan capres dan cawapres tertentu, yang bila tidak dikontrol akan membenamkan netralitas media hanya untuk kepentingan kekuatan personal, politik dan bisnis segelintir elite saja.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.