TAIPEI, KOMPAS.com — Amerika Serikat akan tetap mempertahankan perjanjian kerja sama keamanannya dengan Taiwan walaupun Beijing mendesak negara itu membatalkan rencana penjualan senjata kepada pulau tersebut. Demikian dikatakan utusan pentingnya di Taipei, Jumat (26/6).
"Berdasarkan Undang-Undang Hubungan Taiwan dan praktik kami yang berlangsung lama, kami akan melanjutkan kerja sama dengan Taiwan untuk meningkatkan keamanannya dan memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjajaki hubungan dengan tetangga besarnya itu," kata Stephen Young, Direktur Institut Amerika di Taiwan (AIT).
Komentarnya itu diucapkan setelah China mendesak AS membatalkan satu rencana penjualan senjata seharga 6,5 miliar dollar AS kepada Taiwan dalam perundingan pertahanan pekan ini di Beijing. Young menyebut perjanjian-perjanjian seperti itu merupakan "hambatan paling besar" dalam hubungan China-Amerika.
"Perkenankan saya menjelaskan satu hal, kami tidak berkonsultasi dengan Beijing mengenai kerja sama keamanan kami atau penjualan senjata kami kepada Taiwan," kata Young dalam jumpa wartawan terakhirnya di Taipei sebelum masa jabatannya berakhir Juli mendatang.
"Saya kira pemerintah Obama akan memperhitungkan permintaan sahabat-sahabat Taiwan kami... dan pada satu saat yang tepat akan membuat satu keputusan tentang tipe senjata-senjata pertahanan untuk diberikan kepada Taiwan," ujar Young.
China menghentikan sebentar pertukaran militer dengan AS Oktober 2008 gara-gara rencana penjualan senjata itu, yang termasuk rudal-rudal pencegat yang canggih, helikopter-helikopter Apache, dan rudal-rudal yang diluncurkan dari kapal selam.
AIT mewakili kepentingan AS di Taiwan sejak Washington mengubah pengakuan resmi diplomatiknya dari Taipei kepada Beijing tahun 1979. Washington adalah pemasok senjata utama pulau itu sesuai dengan Undang-Undang Hubungan Taiwan.
Situasi Taiwan, satu pulau yang diperintah secara demokratis dan diklaim China, telah menjadi masalah-masalah paling peka dalam hubungan China-AS.
Taiwan dan China daratan diperintah secara terpisah sejak kedua pihak terpisah tahun 1949 pada akhir perang saudara. Akan tetapi, Beijing menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu reunifikasi, jika perlu dengan kekuatan militer.
Kedua pihak menggelarkan banyak senjata di dalam perbatasan mereka masing-masing Selat Taiwan.

