KOMPAS.com — Inggris telah mengusir dua diplomat Iran sebagai balasan terhadap tindakan rezim garis keras Presiden Mahmmoud Ahmadinejad yang mengusir dua diplomatnya. Sementara itu, sejumlah demonstran berkumpul di luar Kedutaan Besar Inggris di Teheran dengan membakar bendera Inggris, AS, Perancis, dan Italia. Ratusan pendukung garis keras yang menuduh adanya intervensi asing terhadap kerusuhan pascapemilu Iran di antaranya melempari tembok Gedung Kedutaan Besar Inggris itu dengan tomat.
Pengusiran diplomat Iran oleh Inggris berlangsung saat Presiden AS Barack Obama menyampaikan komentar kerasnya terhadap Iran dengan menekankan bahwa masyarakat internasional telah dibuat gusar dengan ancaman ataupun aksi kekerasan pascapemilihan presiden di Iran. Obama memberikan pernyataan khusus terhadap Neda Soltan, perempuan berusia 27 tahun yang menjadi ikon setelah tewas tertembak dalam aksi kekerasan dalam bentrokan yang terjadi antara demonstran dan pasukan keamanan di Teheran, Minggu (21/6).
Saat menyampaikan pengusiran diplomat Iran di hadapan majelis rendah di London, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menerangkan, Teheran telah mengambil langkah yang tidak adil dalam mengusir dua diplomat Inggris dengan tuduhan yang tidak mendasar. "Untuk merespons tindakan itu, kami menginformasikan duta besar Iran bahwa Inggris akan mengusir dua diplomat Iran dari kedutaan besar mereka di London," katanya.
Hubungan Iran dengan Inggris dan AS memanas sejak berlangsung konflik menyusul pemilu di Iran pada 12 Juni. Ketegangan itu telah memicu unjuk rasa massal yang sejauh ini mengakibatkan 17 orang tewas, sebagian besar di antaranya ditembak mati oleh paramiliter yang setia kepada Ahmadinejad.
Inggris telah memerintahkan keluarga diplomatnya meninggalkan Teheran. Inggris juga memerintahkan warganya tidak mengadakan perjalanan ke Iran apabila tidak mendesak.
Peringatan itu dikeluarkan untuk mengantisipasi kemungkinan terulangnya peristiwa pengepungan terhadap kedutaan besar AS pada 1979. Saat itu sejumlah mahasiswa garis keras Iran menyerang Gedung Kedubes AS dan menyandera 52 diplomat selama 444 hari.
Obama memuji keberanian dan kewibawaan masyarakat Iran sekaligus mengecam aksi kekerasan terhadap penduduk sipil yang tak bersalah setelah pasukan keamanan dan milisi membubarkan mereka. Komentar keras ini disampaikan oleh Obama setelah dikritik oleh Partai Republik karena dinilai kurang memberikan dukungan terhadap aksi unjuk rasa di Iran.
"Kami melihat keberanian kaum perempuan dalam menghadapi kebrutalan dan ancaman (dari kerusuhan di Iran). Kami melihat seorang perempuan yang terkapar bermandikan darah di jalanan (akibat kekerasan itu). Kami sadar bahwa mereka yang membela kebenaran akan selalu dikenang perjuangannya oleh sejarah," kata Obama.


