LONDON, KOMPAS.com-Inggris mengusir dua diplomat Iran, Selasa (23/6), dan negara-negara Eropa memanggil duta besar (Iran) untuk menyampaikan kekhawatiran mengenai kekerasan baru pascapilpres.
PM Inggris Gordon Brown mengumumkan pengusiran dua diplomat itu setelah pemerintah Iran memerintahkan dua diplomat Inggris untuk pergi.
Sedikitnya lima negara Uni Eropa telah memanggil utusan Iran untuk memprotes atas tindakan keras pemerintah Iran. Namun, AS berlawanan dengan bersikeras negara itu tidak akan campur tangan dalam politik internal Iran.
Brown mengatakan Iran telah melakukan "tindakan pengusiran yang tidak adil terhadap dua diplomat Inggris karena tuduhan yang sama sekali tidak berdasar". "Dalam jawaban terhadap tindakan itu kami telah memberitahu duta besar Iran sebelumnya hari ini bahwa kami akan mengusir dua diplomat Iran dari kedutaan besar mereka di London," kata Brown pada para anggota parlemen.
Perancis telah memanggil duta besar Iran untuk kedua kalinya dalam sepekan untuk mengecam apa yang negara itu katakan sebagai "penindasan kejam" terhadap unjuk rasa. Seorang pejabat senior kementerian luar negeri Perancis telah menyampaikan "kekhawatiran besar pada perkembangan di Iran" dan menegaskan kembali permintaan agar "cahaya penuh terpancar pada kejujuran pemilihan presiden itu," kata juru bicara kementerian Frederic Desageaux. "Ia telah mempertegas kembali kecaman kami pada penindasan brutal terhadap protes yang telah menyebabkan banyak orang tewas".
Republik Ceko, Finlandia, Belanda dan Swedia juga telah memanggil utusan Iran di ibukota mereka. Seorang pejabat berpangkat tinggi kementerian luar negeri Belanda mengecam "kekerasan yang berlebihan" terhadap para pengunjuk rasa pada pertemuan dengan kuasa usaha Iran, menurut seorang juru bicara kementerian.
Pemerintah Ceko yang memegang jabatan presiden bergilir UE, memanggil wakil Iran di Praha, Senin, dan mendesak mitra-mitranya untuk mengikuti. Inggris, Italia dan Jerman telah memperingatkan warga mereka untuk tidak melakukan perjalanan ke Iran, dan Inggris juga menarik keluarga staf kedutaan besarnya.
Belgia mendesak pemerintah Iran untuk berhenti menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. "Jika dibutuhkan", kata PM Belgia Herman van Rompuy, Teheran hendaknya "mengizinkan penghitungan kembali suara sepenuhnya".
Kelompok-kelompok yang menentang Presiden Mahmoud Ahmadinejad telah melakukan demonstrasi hampir tiap hari untuk memprotes dugaan kecurangan dalam pemilihan 12 Juni. Media pemerintah mengatakan sedikitnya 17 orang tewas dalam kerusuhan. Pemerintah Iran sebaliknya menuduh pemerintah-pemerintah Barat, khususnya Inggris dan AS, telah campur tangan.
Presiden AS Barack Obama telah mengekang kiri untuk tidak mengomentari mengenai krisis Iran dan Gedung Putih kembali berhati-hati, Selasa. "Saya pikir dunia sedang menyaksikan. Saya kira mereka telah mengerjakan sesuatu. Mereka tertarik perhatiannya dengan apa yang terjadi di Iran," kata juru bicara Robert Gibbs pada NBC. Namun, apakah Obama akan mendukung pemogokan umum pimpinan oposisi, ia mengatakan: "Kami tidak akan terlibat dalam mendukung atau tidak mendukung aksi tertentu di Iran".
Sekjen PBB Ban Ki-moon telah meyuarakan kekhawatiran yang meningkat mengenai kekerasan itu dan minta "penghentian segera penangkapan, ancaman dan penggunaan kekuatan". Ia minta pada pemerintah dan oposisi "untuk menyelesaikan secara damai perbedaan mereka melalui dialog dan cara-cara yang sah". Jepang, Selasa, juga menyerukan "penyelesaian damai" atas krisis itu. "Jepang memprihatinkan sekali korban yang ditimbulkan oleh protes itu," kata Menlu Jepang Hirofumi Nakasone.

