SEOUL, KOMPAS.com -
”Korut kemungkinan besar bisa memakai taktik-taktik perlawanan dengan sasaran warga sipil dan pasukan bersenjata,” kata pimpinan pasukan AS di wilayah Korea Selatan, Jenderal Walter Sharp, saat berpidato di hadapan pasukan Korsel, Selasa (23/6).
Sharp menjelaskan lebih lanjut, dengan taktik itu tentara Korut kemungkinan akan menggunakan beragam bahan peledak rakitan yang canggih. Tujuannya untuk memperluas ”daya rusak”. Bahan peledak rakitan nan canggih itu bisa menyerang baik warga sipil maupun tentara AS ataupun tentara Korsel. ”Dengan pelatihan riil dan rutin, Korsel pasti siap menghadapi musuh yang kita prediksi akan memakai bahan peledak rakitan canggih, yang bisa sembunyi di balik warga sipil dan menyerang tentara atau warga dari belakang,” papar Sharp.
Menurut informasi dari pihak militer Korsel, Korut yang mempunyai sedikitnya 180.000 pasukan khusus itu dilaporkan makin giat berlatih untuk melawan pasukan Korsel.
Untuk mempersiapkan ”ajang uji senjata”, Korut mengingatkan Jepang untuk mengosongkan sebagian wilayah perairan di timur Jepang selama 16 hari mulai hari Kamis mendatang. Menurut rencana, Korut akan menggelar lima latihan menembak atau uji coba senjata baru. ”Mereka jelas-jelas menyebutkan kawasan itu harus dikosongkan untuk kepentingan latihan militer,” kata seorang juru bicara penjaga pantai Jepang.
Korut diduga akan melakukan uji coba misil jarak pendek kembali. Bahkan, banyak pihak menduga Korut akan menembakkan misil jarak jauh yang akan dapat mencapai Hawaii.
Dalam peringatan tertulisnya kepada Jepang, Korut akan berlatih di wilayah Wonsan antara Kamis dan 10 Juli, sekitar pukul 8 pagi dan 8 malam. Korut meminta tak ada kapal yang berada di perairan itu atau sekitar 110-450 kilometer dari wilayah itu.
Menurut Korsel, satu-satunya cara supaya Korut bersedia melucuti senjata adalah jika China tak lagi mendukung Korut. ”Kami tidak mau hanya memojokkan China, tetapi juga membujuk China untuk melihat dunia dengan cara berbeda. ”Korut yang bebas nuklir, bebas, terbuka, dan Korea bersatu pasti jauh lebih menguntungkan bagi China daripada dengan situasi seperti saat ini,” kata seorang pejabat di Korsel.


