Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 10:36 WIB
Iran Redam Gejolak Unjuk Rasa
| Senin, 22 Juni 2009 | 12:55 WIB
|
Share:

AFP/ALI SAFARI
Seorang pengunjuk rasa di dekat bus yang dibakar dalam bentrok dengan polisi di Teheran, Sabtu (20/6) lalu.

TERKAIT:

KOMPAS.com — Pihak berwenang Iran mengerahkan ribuan petugas keamanan di jalan-jalan Teheran, sehari setelah protes massal atas hasil pemilu. Sejumlah saksi mata mengatakan tidak ada rapat umum di Teheran pada hari Minggu (21/6), sehari setelah 10 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa.

Sejumlah orang yang dituduh pemimpin unjuk rasa dilaporkan telah ditangkap. Pihak berwenang masih terus melakukan pemberangusan terhadap media asing, termasuk mengusir koresponden BBC di Teheran.

BBC membenarkan bahwa Jon Leyne diminta meninggalkan negara itu, tetapi dikatakan kantor BBC di Teheran masih tetap buka. Kelompok Wartawan Tanpa Perbatasan menyebutkan, 23 wartawan lokal dan sejumlah blogger ditangkap dalam pekan ini.

Dari atap rumah

Protes dipicu oleh pemilihan presiden 12 Juni yang pejabat katakan Mahmoud Ahmadinejad menang dengan dukungan suara besar. Para pendukung saingan terdekatnya, Mir Hossein Mousavi, yakin pemilu dicurangi dan berunjuk rasa sejak hasilnya diumumkan.

Namun, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei mendukung Ahmadinejad dan menyatakan dalam pidato pekan lalu bahwa aksi protes harus dihentikan.

Sejumlah pengamat menafsirkan pidato Ayatollah itu sebagai lampu hijau untuk aparat keamanan menggunakan peluru tajam.

Televisi pemerintah Iran melaporkan, 10 orang meninggal dan 100 lainnya cedera ketika para pemrotes dan polisi bentrok Sabtu. Hari Minggu, ribuan aparat keamanan berada di jalan-jalan namun, tetapi pemrotes menjauhi mereka.

Wartawan BBC Jeremy Bowen di Teheran mengatakan, banyak warga Teheran utara meneriakkan yel-yel dari atap rumah "matilah diktator" dan "Allahu Akbar" pada Minggu malam.

Yel-yel itu menjadi bentuk populer dari unjuk rasa dan wartawan BBC menyebutkan, pria, wanita, dan anak-anak bergabung serta meneriakkan yel hari Minggu lebih keras dari hari-hari sebelumnya.

Sumber :