WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden AS Barack Obama mendesak Israel untuk membekukan permukiman Yahudi sebelum pihaknya mengadakan perundingan baru di Paris pekan depan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu soal perdamaian Israel-Palestina. Namun, pemerintah Israel rupanya menolak permintaan Obama itu.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton menandaskan kembali permintaan itu setelah melakukan pembicaraan dengan timpalannya dari Israel, Avigdor Lieberman, Rabu (17/6). Ini adalah pertemuan pertama mereka sejak pemerintah berhaluan kanan Netanyahu mengambil alih pemerintahan pada akhir Maret.
"Kami ingin melihat permukiman-permukiman itu dihentikan," kata Hillary kepada para wartawan pada saat ia bertemu dengan Lieberman. "Kami rasa bahwa ini penting dan bagian mendasar untuk melaksanakan upaya-upaya yang mengarah pada perjanjian menyeluruh dan pembentukan negara Palestina mendatang, bagi negara Yahudi Israel yang menjamin perbatasan-perbatasan dan masa depannya," ujarnya.
Pada 27 Mei, Hillary mengatakan bahwa Obama telah menjelaskan hal itu saat Netanyahu berkunjung ke Washington pada bulan yang sama. Dalam kesempatan itu, Obama mengatakan, dia tidak ingin "mengecualikan pertumbuhan alami" berkaitan dengan pembekuan permukiman itu.
Sementara itu, Lieberman berdalih, Israel tidak akan menghentikan permukiman agar keseimbangan demografi wilayah Tepi Barat terjaga. "Kami pikir bahwa sebagaimana halnya di banyak tempat, bayi lahir, orang-orang menikah, beberapa meninggal dunia, dan kami tak bisa menerima visi ini mengenai pembekuan menyeluruh dan mutlak atas permukiman-permukiman itu. Saya rasa bahwa kita harus mempertahankan pertumbuhan alami," katanya.
"Pendekatan ini sangat jelas dan juga kami mempunyai beberapa pengertian dengan pemerintah sebelumnya (George W Bush), dan kami berusaha untuk melaksanakannya," ujarnya.
Namun, Hillary tidak setuju dengan pendapat itu. "Bila memerhatikan sejarah pemerintahan Bush, ada perjanjian-perjanjian bukan tak resmi atau dalam bentuk ucapan yang dapat dilaksanakan," katanya, mengulangi pernyataan sebelumnya.
Setelah berbulan-bulan ditekan AS, Netanyahu melanggar ideologi partai sayap kanannya ketika menyatakan mendukung solusi dua negara, Minggu. Ini adalah tonggak sejarah dalam upaya mewujudkan perdamaian Timur Tengah yang dilakukan selama bertahun-tahun.
Namun, dia banyak memberikan syarat-syarat, seperti pengakuan Palestina terhadap Israel sebagai negara Yahudi, Palestina harus menghapus militer dan tidak menguasai wilayah udara atau memiliki kemampuan untuk membangun pakta-pakta militer.
Pemerintah Obama mengumumkan bahwa George Mitchell, utusan khusus AS untuk perdamaian Timur Tengah, akan berkunjung ke Paris pada 25 Juni untuk berbicara dengan Netanyahu. "Ini akan menjadi kesempatan pertama untuk Senator Mitchell menindaklanjuti pembicaraan dengan perdana menteri, setelah pidatonya," kata Asisten Menlu AS bidang Hubungan Masyarakat, Crowley, kepada para wartawan.


