JAKARTA, KOMPAS.com - Investor Korea Selatan kembali berminat untuk menanamkan modalnya di sektor kehutanan dengan mengembangkan industri biomassa yang berbasis bahan baku kayu (wood pellet) di Indonesia.
Dirjen Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan Hadi Daryanto, di Jakarta, Jumat, mengatakan saat ini PMA asal Korea yaitu PT Solar Park Indonesia sudah menginvestasikan dana sebesar enam juta dollar AS untuk pembangunan pabrik wood pellet atau pelet kayu dengan kapasitas produksi 10 ton per jam.
"Investasi ’wood pelet’ ini baru bagi Indonesia dan Korea Selatan. Produk yang dibuat dari limbah kayu, baik kayu gergajian atau serbuk kayu ini akan digunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara untuk pabrik industri primer kehutanan," kata Hadi.
Investor baru yang tertarik untuk membangun industri wood pellet harus lebih dahulu mengembangkan Hutan Tanaman Industri (HTI). "Investor dari Korsel berharap dapat memperoleh areal seluas 200.000 hektare untuk membangun HTI untuk pemenuhan bahan baku kayu bagi industri biomassa," katanya.
Saat ini, lanjut Hadi, investor Korsel tengah melakukan survei di Kalimantan Tengah. Hadi mengatakan minat investor Korsel untuk menanamkan modalnya di industri ini karena kebijakan Presiden Korea Selatan, Lee Myung Bak, yang akan mengimplementasikan "Green Growth" Korea terkait dengan agenda dunia mengatasi perubahan iklim (Climate Change ).
"Dengan ’Green Growth’-nya itu, Korsel berharap dapat mengganti lima persen dari penggunaan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik dengan biomass dari `wood pellet' ini. Kalau kebutuhan batubara Korsel delapan juta ton per tahun, maka ada pasar potensial untuk produk biomass ini sekitar 400.000 ton per tahun," kata Hadi.
Ia menambahkan, dengan masuknya investasi di "wood pellet" ini terbuka peluang bagi industri kayu nasional untuk mengembangkan sumber energi dengan manfaatkan limbah kayu sengon dan kayu dari hutan rakyat lainnya.
Menyinggung PT SolarPark Indonesia yang sudah menanamkan modalnya di Wonosobo, Jawa Tengah, Hadi mengatakan pabrik itu memproduksi 10 ton per jam ’wood pellet’ dari bahan baku serbuk atau limbah kayu 1.200 meter kubik.
Dia menegaskan produk ini cukup potensial digarap karena harganya di pasar internasional mencapai 300 dolar AS per ton. "Pabrik ini juga menyerap tenaga kerja paling tidak 70 orang," katanya.
Hadi juga optimistis produk ini mampu menggantikan batu bara karena panasnya mencapai 4.880 kilo kalori. "Dengan kemampuannya mengeluarkan panas yang setara dengan batu bara, `wood pellet’ akan diterima pasar karena dunia kini sedang ebrgerak dan mengupayakan mekanisme pembangunan bersih untuk membantu mengurangi efek gas rumah kaca," katanya.

