JAKARTA, KOMPAS.com - Nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) yang justru terlunta-lunta di Negeri Jiran sedikit banyak bakal menjadi deretan cerita panjang. Masih lekat di benak soal Siti Hajar yang diperlakukan di luar batas kemanusiaan oleh majikannya. Lalu, sebelumnya, ada Sumasri, TKI asal Blitar, Jawa Timur, yang disiram air panas oleh tuannya yang bernama Atung, di Puchong, Selangor.
Mei, lalu, sedikitnya sembilan TKI juga mengalami nasib naas. Mereka menjadi korban reruntuhan supermarket Jaya di Petaling Jaya, Selangor. Paling tidak, dari tujuh korban meninggal, cuma dua jenazah yang masih dapat dikenali yakni Mohammad Maskur dari Pacitan dan Anwarudin dari Blitar.
Hal lain yang juga memunculkan keprihatinan adalah cepat habisnya gaji para TKI, kebanyakan dari pos konsumsi. Padahal, sejatinya, mereka membanting tulang demi memperoleh uang lebih bagi kesejahteraan kelak yang, boleh jadi, belum bisa terpenuhi tatkala para tenaga kerja itu mencari nafkah di Tanah Air.
Dari catatan yang ditulis Harian Kompas, Jumat (12/6), TKI yang menjadi pembantu rumah tangga di Hongkong, pertama kali mendapat gaji 2.000 dollar Hongkong. Kalau ikut kurs, kira-kira, duit sebesar itu menjadi Rp 2,8 juta. Usai dipotong per bulan 700 dollar Hongkong selama tujuh bulan untuk pembayaran "utang" ke lembaga pengirim tenaga kerja, barulah para TKI menikmati gaji utuh.
Lalu, seperti penuturan Imeng (35) dan Nurhayati (32) asal Indramayu, Jawa Barat, usai bekerja keras tujuh tahunan dari sekarang, keduanya kini bergaji masing-masing 3.480 dollar Hongkong. Eitss, jangan salah dulu, nominal ini adalah garis paling buncit gaji di Hongkong!
Uniknya, Imeng bahkan masih berharap bisa mengumpulkan rezeki. "Biar enggak jadi TKI terus," katanya.
Maka dari itulah, patut diduga, banyak TKI belum mampu mengelola penghasilan mereka. Sama seperti yang diungkapkan Direktur Utama SidoMuncul Irwan Hidayat, hari ini, masih ada TKI yang ingin generasi penerus akan mengikuti jejaknya menjadi pekerja kasar di negeri orang. "Makanya saya ingin membuat pelatihan mengajari para TKI mengelola keuangan penghasilan mereka," katanya kepada Kompas.com di sela-sela pemberian bantuan sosial senilai total Rp 250 juta kepada legiun veteran, mantan atlet, Sanggar Ciliwung Merdeka, Wisma Kasih Bunda, serta keluarga TKI korban di Petaling Jaya berbarengan dengan peluncuran versi ketiga iklan Laskar Mandiri produk Kuku Bima Energi (KBE).
Kendati demikian, lontaran idenya itu, aku Irwan, memang belum sampai ke detail nyata. Pihaknya memang masih terus mengkaji bentuk-bentuk seperti apa yang bisa dilakukan demi memberi perhatian bagi para TKI tersebut. "Kalau bisa tahun ini, itu bisa terlaksana," katanya.

