KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Sumasri Disiram Air Panas hingga Depresi
Jumat, 12 Juni 2009 | 05:47 WIB
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Penganiayaan terhadap tenaga kerja Indonesia di Malaysia masih terus terjadi. Sumasri, TKW asal Blitar, Jawa Timur, pulang dengan kondisi depresi berat. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau BNP2TKI tidak mengetahuinya. Sumasri pulang dalam kondisi memprihatinkan.

Di Bandara Soekarno-Hatta, seharusnya Sumastri diperiksa dulu oleh dokter. Sumasri tiba di rumahnya, Senin (25/5), diantar mobil Terminal IV Bandara Soekarno-Hatta dengan biaya sejuta dari Sumasri. Menurut Migrant Care, dengan kondisi seperti itu, Sumasri harusnya dibebaskan dari pungutan biaya apa pun.

Luka jadi kelolid

Hampir seluruh tubuh Sumasri, terutama di bagian punggung, bahu, lengan, dan paha, ditemukan banyak bekas luka yang sudah mengering dan telah menjadi keloid. Sumasri kerap disiksa dengan disiram air panas oleh keponakan majikan.

Kasus ini diketahui ketika pihak keluarga melapor ke Lembaga Pengembangan Perempuan Desa (LPPD) di Blitar mengenai luka-luka di seluruh tubuh, kondisi mental Sumasri, dan juga mengenai barang-barang milik Sumasri. LPPD lalu mengontak Migrant Care untuk melanjutkan kasus ini ke DPR.

”Komisi IX DPR sudah datang ke Terminal IV. Dokter mengaku lalai tidak memeriksa Sumasri,” kata Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care, Kamis (11/6).

Sumasri, warga Desa Klemunan, Kecamatan Wlingi, Blitar, Jawa Timur, ini bekerja di Malaysia selama dua tahun pada majikan bernama Atung di Puchong, Selangor. Dia tidak pernah menerima gajinya dan tidak pernah kontak dengan keluarga.

Penulis: ARN   |     |   Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.