Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 23:04 WIB
Kim Memilih Jong Un
| Rabu, 3 Juni 2009 | 06:20 WIB
|
Share:

(Getty Images/KCNA via KNS)
Gambar yang tak disertai tanggal dan dikeluarkan oleh Korean Central News Agency pada 19 September 2008 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Il mengunjungi sebuah pabrik yang dikelola oleh Ri Jong Ok di provinsi Jagang.

TERKAIT:

 

SEOUL, KOMPAS.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il menunjuk Jong Un (26), putra bungsunya, untuk menjadi penerusnya. Informasi ini diutarakan badan intelijen Korea Selatan, Selasa (2/6). Sejak Kim (67) terkena stroke, Agustus lalu, beredar beragam spekulasi mengenai calon penerus Kim.

Kim Jong Un selama ini dikenal sebagai pribadi yang berpotensi menjadi pemimpin yang kuat dan juga bisa kejam. ”Ia memiliki kepribadian pemimpin,” kata ahli masalah Korut di Institut Sejong, Cheong Seong-Chang.

Menurut kantor berita Yonhap, rakyat Korut kini diharuskan menghafalkan lagu-lagu baru ”Komandan Kim” yang menunjukkan kesetiaan kepada pemimpin Kim yang baru. Si bungsu Jong Un adalah anak istri ketiga Kim, Ko Yong Hi, yang meninggal karena kanker payudara tahun 2004. Jong Un selama ini mendapat pendidikan di sekolah internasional di Swiss. Selama ini tidak banyak yang tahu mengenai sikap atau kepribadian Jong Un.

Namun, banyak pihak yakin Jong Un sangat mirip dengan ayahnya. Sebenarnya, Kim tak secara langsung memilih Jong Un. Kim sempat akan menunjuk putra sulungnya, Kim Jong Nam (37), yaitu anak dari istri yang lain. Akan tetapi, Jong Nam batal dipilih karena pernah dideportasi dari Jepang tahun 2001 karena hendak masuk Jepang menggunakan memakai paspor palsu.

Kim menominasikan Jong Un sebagai penerusnya kira-kira saat akhir tahun lalu atau awal tahun ini. Kim juga telah memberi tahu pihak partai, militer, dan segenap jajaran pemerintahan mulai dari tingkat pejabat tinggi. Para pengamat menilai Kim Jong Chul, putra kedua Kim, sebenarnya lebih disukai dan diharapkan menjadi pengganti ayahnya. Namun, bagi Kim, Jong Chul terlalu feminin dan tidak bisa memimpin karena alasan kesehatan.

Meski mirip dengan Kim, berbagai pengamat menilai Jong Un tidak akan bisa memengaruhi pihak militer. ”Jika Kim meninggal, kemungkinan Korut tidak akan bersedia berunding kembali untuk membahas senjata nuklir. Jong Un tidak terlalu disegani militer,” kata Cheong.

Jarak menengah

Setelah dilaporkan bersiap meluncurkan rudal jarak dekat dan jarak jauh, Korut kembali dilaporkan bersiap meluncurkan tiga rudal jarak menengah. Kantor berita Yonhap menyebutkan, ketiga misil akan diluncurkan dari Anbyon, sekitar 100 kilometer timur kota Seoul, Korsel. Dari tiga rudal itu, dua di antaranya jenis Rodong yang memiliki jangkauan hingga 1.300 km dan rudal jenis baru yang bisa menjangkau target sejauh 3.000 kilometer.

Mengantisipasi ancaman adanya serangan dari Korut, Korsel memperketat garis perbatasan di laut dengan mengerahkan kapal patroli berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan peluru kendali di perbatasan laut Korsel-Korut. Korsel bertekad ”menghukum” siapa pun yang memancing dengan serangan ke arah Korsel. ”Kapal patroli Yoon Young-ha disiagakan di Laut Kuning. Dibandingkan kapal milik Korut, Yoon Young-ha lebih kuat,” kata juru bicara Angkatan Laut Korsel.

Untuk membantu Korsel, AS akan menjual bom GBU-28 yang sanggup menghancurkan fasilitas bawah tanah Korut kepada Korsel. Bom jenis ini pernah digunakan semasa Perang Teluk 1990-1991 untuk menghancurkan pusat komando bawah tanah di Irak. Bom itu akan dikirim ke Korsel sekitar tahun 2010 dan 2014. Ada dugaan Korut menyimpan artileri di bawah tanah sepanjang perbatasan. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

Sumber :
Kompas Cetak