Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 23:01 WIB
Wow, Pendapatan 17 Hari dari 30 Hari Hanya untuk Beli Rokok
Frans Agung Setiawan | Selasa, 2 Juni 2009 | 11:25 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS, com — Sebanyak 78 persen perokok ternyata berasal dari golongan menengah ke bawah. Ini menjadi persolan nasional, jadi perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Demikian diungkapkan Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Farid Anfasa Moeloek seusai talkshow Klinik di Kedai Tempo Jakarta (2/6).

"Tidak hanya itu, dari 30 hari kerja, pendapatan 17 hari hanya dibakar," kata Farid yang mengutip hasil penelitian Lembaga Demografi Universitas Indonesia tahun 2007.

Dengan kata lain, lanjutnya, masyarakat menengah ke bawah hanya menggunakan pendapatan 13 hari kerja untuk kebutuhan keluarga. "Ini sangat mengerikan," ungkap Farid, yang juga mantan Menteri Kesehatan pada masa Orde Baru.

Dengan jumlah pendapatan sebesar itu, lanjut dia, yang langsung merasakan dampaknya adalah anak-anak. "Bagaimana tidak, kebutuhan pertama dalam keluarga adalah nasi, lalu yang kedua rokok. Lalu, bagaimana mau meningkatkan gizi anak," katanya.

Dengan demikian, tegasnya, persolan rokok bisa menyebabkan hilangnya sebuah generasi. "Anak-anak drop sekolah SD bukan karena tidak mampu membayar sekolah, tapi karena IQ-nya rendah. Itu disebabkan kurang gizi. Uang yang seharusnya dipakai meningkatkan gizi anak, malah dipakai untuk rokok," tutur Farid.

Selain itu, katanya, rokok juga menjadi pintu gerbang untuk masuk ke alkohol dan narkoba. "Generasi anak muda kita bisa benar-benar hilang," ungkapnya.