JAKARTA, KOMPAS.com - Australia berminat mengaktifkan kembali peringatan gugurnya tentara persemakmuran pada perang dunia II atau yang dikenal "Anzac Day" di kota Ambon, Maluku. "Pahlawan itu harus dihargai. Jadi, peringatan Anzac Day akan diaktifkan kembali," kata Juru Bicara Kedubes Australia, Sanchi Davis, di Jakarta, Kamis (21/5).
Konflik sosial sejak tahun 1999 menyebabkan peringatan Anzac Day yang biasanya dirayakan pada Taman Persemakmuran Kapahaha di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon setiap 15 Mei dihentikan. Di sana terdapat 1.092 makam serdadu Australia, Inggris (810), Belanda (186), India (30), Kanada (dua) dan masing-masing satu dari Selandia Baru dan Afrika Selatan serta 15 lainnya tidak teridentifikasi.
Pada kawasan makam ini juga dibangun "Tugu Ambon" oleh Commonwealth War Commision dalam rangka memperingati 289 tentara dan 171 penerbang Australia yang gugur di Maluku, Sulawesi dan Kepulauan sekitarnya dalam perang dunia kedua. "Australia tetap berminat memulai kembali peringatan Anzac Day, tapi itu tergantung persetujuan pihak berkompeten di Indonesia," ujar Sanchi.
Dia mengatakan, tetap memantau perkembangan kondisi keamanan di Kota Ambon yang ternyata saat ini semakin kondusif paska konflik sosial. "Keamanan tidak menjadi masalah. Hanya karena kegiatan ini berkaitan dengan hubungan diplomat negara sahabat sehingga perlu adanya persetujuan pihak berwewenang di Indonesia," kata Sanchi.
Sebelumnya, Walikota Ambon, Jopi Papilaja yang tengah berada di Jakarta mengatakan melalui Pemerintah Darwin (Australia Utara) sebagai kota kembar (sister city) Ambon sudah menjamin kegiatan peringatan Anzac Day diaktifkan kembali. "Pemkot Ambon siap memfasilitasi peringatan tersebut," katanya.
Ia mengungkapkan, Pemkot Ambon sudah mengaktifkan kembali lomba layar Internasional Darwin-Ambon dalam dua tahun terakhir ini, sehingga keamanan bukan menjadi masalah lagi bagi orang asing untuk datang ke Ambon. Peserta lomba layar Internasional dari mancanegara itu diharapkan menyampaikan kondisi sesungguhnya Kota Ambon yang sudah aman.
"Saat itu pelayar bebas mengunjungi sejumlah obyek wisata pantai dan berjalan- alan dalam Kota Ambon," ujar Walikota Papilaja yang saat itu berada di Jakarta untuk urusan dinas.