BANDUNG, KOMPAS.com — Konflik di Jerusalem, Timur Tengah, diyakini sangat sulit dihentikan. Berbagai upaya, termasuk resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang muncul sejak 1967, tidak berhasil menghentikan pertikaian antara Israel dan Palestina yang sama-sama menduduki wilayah itu.
Sempat muncul wacana, menjadikan Jerusalem sebagai kota internasional adalah solusi terbaik menghentikan konflik ini. Hal ini disampaikan wartawan senior yang juga Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Trias Kuncahyono, Selasa (12/5), dalam bedah bukunya berjudul Jerusalem; Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir, di Aula Universitas Islam Bandung.
"Dengan status kota internasional ini, setiap orang bisa bebas masuk. Usulan ini sempat dibahas Dewan Keamanan PBB, tapi kandas," ucapnya. Kondisi di Jerusalem, ucapnya, kerap menampilkan wajah yang kontradiktif. Di satu saat terlihat sangat hening dan syahdu, menunjukkan wajah toleransi dalam beribadah antar-pemeluk agama, baik Kristen, Yahudi, maupun Islam.
Namun, di banyak kesempatan, pertikaian seolah tidak pernah berhenti dari kota yang secara etimologis bernama kota damai ini. Gambaran mengenai wajah kota Jerusalem yang kontradiktif ini digambarkan dalam buku karyanya itu.
Buku yang telah dicetak ulang hingga 10 kali dalam waktu setahun ini berisikan catatan perjalanan jurnalistik Trias selama di Jerusalem. "Buku ini adalah perpaduan antara pengalaman rohani, kajian antropologi, sejarah, dan politik luar negeri. Campur-campur. Tetapi, yang pasti bukan buku agama tertentu," ucapnya.
Usep Romli, wartawan senior harian Pikiran Rakyat, yang tampil sebagai pembahas, mengatakan, konflik di Jerusalem lebih kental bernuansa agama, ketimbang persoalan politik atau administratif wilayah.

