Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 09:01 WIB
Korut Makin Intensif dengan Nuklir
Tri Mulyono | Kamis, 7 Mei 2009 | 11:21 WIB
|
Share:

AP PHOTO/AHN YOUNG-JOON
Seorang tentara Korsel menyaksikan tayangan televisi yang menampilkan gambar peluncuran roket Korea Utara, Minggu (5/4).

TERKAIT:

SEOUL,KOMPAS.com-Korea Utara makin mengintesifkan kegiatan di lokasi-lokasi persenjataan mereka setelah mengancam akan melakukan lagi ujicoba senjata nuklir dan rudalnya sebagai balasan atas  sanksi-sanksi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Harian Chosun Ilbo, Kamis (7/5) melaporkan, lalu-lalang kendaraan dan orang  terjadi di kota kecil di bagian timur laut Kilju, tempat negara komunis itu melakukan ujicoba bom atom pertamanya pada Oktober 2006.

Korea Utara juga telah mempercepat pembangunan untuk tempat peluncuran rudal jarak jauh baru di pantai barat, lapor harian dengan sirkulasi terbesar itu mengutip sumber-sumber pemerintah.

Dinas Intelijen Nasional Korea Selatan menolak mengomentari laporan-laporan itu. "Itu sulit untuk diperkirakan waktunya, untuk suatu ujicoba nuklir di bawah tanah Korea Utara, yang diyakini akan siap dilakukan dalam tempo tak lama," kata sumber tersebut, seperti dikutip oleh harian itu.

Korea Utara juga mengerahkan banyak orang dan peralatan ke tempat peluncuran baru di Dongchang-ri. Lokasi tersebut sekitar 120 kilometer di barat laut Pyongyang, yang pembangunannya diperkirakan akan selesai pada akhir tahun ini. Namun sekarang, tampaknya akan bisa diselesaikan dalam beberapa bulan saja, kata sumber itu.

Menteri pertahanan Korea Selatan pada November lalu mengatakan, lokasi itu 80 persen telah diselesaikan, dan akan bisa digunakan untuk peluncuran rudal yang lebih besar dari yang diluncurkan sebelumnya.

Korea Utara mempunyai tempat peluncuran lainnya di Musudan-ri di pantai timur, di mana peluncuran roket jarak jauh pada 5 April dilakukan.

Kementerian mengatakan, peluncuran itu dilaporkan peluncuran satelit untuk keperluan damai ke dalam orbit, namun negara-negara lain berpendapat peluncuran tersebut hanyalah kedok untuk ujicoba rudal jarak jauhnya.

Setelah Dewan Keamanan PBB mengecam peluncuran dan memperketat sanksinya, Korea Utara keluar dari perundingan perlucutan nuklir enam negara, dan mengatakan bahwa pihaknya memulai lagi programnya untuk menghasilkan plutonium untuk pembuatan senjata.

Di Washington, Presiden Barack Obama, Rabu, melakukan pembicaraan melalui telepon dengan timpalannya, Presiden China Hu Jintao dan sama-sama menyatakan `prihatin` terhadap masalah keamanan, termasuk program nuklir Korea Utara.

Sumber :
Ant