Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:25 WIB
Museum Batik Pekalongan Berkembang Pesat
| Kamis, 7 Mei 2009 | 01:34 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Perajin sedang mewarnai batik di perkampungan perajin batik di kawasan Sampangan, Pekalongan, Jawa Tengah.

JAMBI, KOMPAS.com--Di antara 286 jumlah museum di Indonesia saat ini, ternyata ada museum yang 12 Juli mendatang berusia tiga tahun dengan perkembangan yang pesat.

Bahkan, pola pengelolaan dengan sistem konsorsium dan menunjuk pihak swasta untuk mengelolanya secara profesional, merupakan yang pertama di Indonesia. "Gagasan pengelolaan dengan sistem konsorsium ini muncul, setelah dua museum sebelumya yang sudah lama ada, tidak berkembang seperti yang diharapkan.

Pengelolaan kedua museum ini diilakukan oleh dinas/instansi kebudayaan dan pariwisata," kata Wali Kota Pekalongan Mohamad Basyir Ahmad, saat bincang-bincang dengan Kompas, Rabu (6/5) di Jambi.

Dijelaskan, konsorsium melibatkan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan stakeholder, di samping Wali Kota. Pengelolaannya diserahkan konsorsium ke pihak swasta dengan tenaga-tenaga yang terlatih dan profesional. "Jadi, Museum Batik Pekalongan dibuat mandiri.

Dan setelah jalan hampir tiga tahun ternyata bisa. Daerah-daerah sangat antusias mengirimkan batik-batik khas daerah mereka, dan sampai saat ini sudah ada sekitar 1.000 koleksi batik," katanya.

Koleksi tidak dipamerkan semuanya sekaligus, tapi bertahap dan diganti sekali tiga bulan. Strategi ini membuat pengunjung mau tak mau harus berkunjung berkali-kali, karena setiap tiga bulan itu, dipamerkan koleksi yang baru lagi. Soal fasilitas relatif lengkap, ada perpustakaan, ruang pamer, ruang seminar, tempat pelatihan, fasilitas HAKI, ada kedai tempat penjualan. Dua hingga tiga tahun ke depan, pengelolaan dan hasil yang diharapkan dari Museum Batik Pekalongan ini akan maksimal.

Mohammad Basyir Ahmad juga mengungkapkan bahwa Batik Indonesia kini dalam proses menjadi warisan dunia. Juli 2009 akan dapat gambaran pasti tentang Batik Indonesia sebagai warisan dunia. "Saat ini saja ada ribuan orang dari berbagai kalangan usia dan bangsa berkunjung per bulan. Jika jadi warisan dunia, jumlah pengunjung diyakini akan meningkat," jelasnya.

Di Pekalongan, batik sudah menjadi muatan lokal, bahkan ada SMK Batik. Hal ini sangat mendukung keberadaan museum batik dan berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Ke depan, juga akan didirikan perguruan tinggi batik di Pekalongan.(NAL)

Sumber :
Kompas Cetak