Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 07:14 WIB
NATO Mulai Pelatihan Militer di Georgia
Josephus Primus | Rabu, 6 Mei 2009 | 20:36 WIB
|
Share:

TBILISI, KOMPAS.com - NATO, Rabu (6/5), mulai melakukan pelatihan militer kontroversial di Georgia sehari setelah bekas republik Sovyet itu mengatakan telah mematahkan satu pemberontakan  militer yang didukung Rusia.
   
Pelatihan sebulan itu melibatkan paling tidak 1.100 tentara dari lebih 12 negara NATO dan non-NATO dalam pelatihan-pelatihan komando dan  lapangan.
   
Georgia memuji pelatihan itu sebagai satu tanda solidaritas  sembilan bulan setelah perang singkatnya dengan Rusia musim panas lalu.  Tetapi, Moskwa  mengecam pelatihan itu, dengan Presiden Dmitry Medvedev  ,Rabu, menyebutnya "itu jelas satu provokasi."
   
Dalam satu tanda meningkatnya ketegangan NATO-Rusia, Rusia, Rabu, mengusir dua diplomat Kanada yang bekerja di kantor perwakilan NATO  di Moskwa setelah aliansi itu mengusir dua utusan Rusia dalam satu pertikaian mata-mata, kata pihak berwenang Rusia dan Kedubes Kanada.
   
Seorang juru bicara kementerian pertahanan Georgia  yang bertanggung jawab  atas pelatihan NATO itu, Kolonel Giorgi Kakiashvili, mengatakan mereka akan tetap melakukan pelatihan itu sesuai dengan rencana. "Segalanya telah berjalan lancar sesuai rencana. Sebagian besar  peserta telah tiba," katanya.
   
Ia mengatakan para peserta akan berkumpul hari ini untuk merencanakan pertemuan-pertemuan dan pelatihan komando berskala penuh  akan dimulai Senin.
   
Pelatihan, yang melibatkan negara-negara NATO dan anggota Kemitraan bagi Program Perdamaian aliansi itu untuk bekas negara-negara blok Timur, memiliki dua komponen.
   
"Cooperative Longbow", berlangsung mulai Rabu sampai 19 Mei  , adalah satu pelatihan  "pos komando" yang dipusatkan pada pelatihan  dan penyesuaian dengan prosedur NATO dalam satu operasi penanganan krisis.
  
 "Cooperative Lancer," dari  21 Mei sampai 3 Juni , adalah pelatihan lapangan yang memberikan pelatihan bagi operasi-operasi pemeliharaan perdamaian.
   
Pada Selasa lalu, Georgia mengatakan pihaknya telah menumpas secara damai satu pemberontakan  di sebuah pangkalan militer dekat Tbilisi yang bertujuan untuk menganggu pelatihan itu.
   
Georgia sebelumnya menuduh Rusia mendukung  satu kelompok bersenjata -- satu klaim  yang disebut Moskwa sebagai "sakit pikiran"-- tetapi kemudian membantah keterlibatan Rusia dalam kelompok itu.
   
Pemberontakan singkat di batalyon tank pangkalan Muhrovani  berakhir tanpa kekerasan setelah Presiden Mikheil Saakashvili turun tangan.
   
Paling tidak 20 orang ditahan termasuk komandan batalyon  dan polisi sedang mengejar dua mantan perwira militer  dan seorang perwira lainnya yang terlibat dalam aksi itu. "Penyelidikan masih berlanjut. Mereka yang ditahan termasuk tentara-tentara  di batalyon  Mukhrvani  sedang diperiksa ," kata juru bicara kementerian dalam negeri Shota Utiashvili , Rabu.
   
Oposisi Georgia menuduh Saakasvili menggunakan pemberontakan itu  untuk mengalihkan perhatiaan dari hampir sebulan protes yang menyerukan pengunduran dirinya.
   
Pemberontakan itu yang  menyebabkan Armenia tetangganya menarik diri dari pelatihan NATO itu, tetapi Washington meremehkannya dengan menyebut pemberontakan itu satu "insiden terpisah."
   
Georgia dan Rusia terlibat perang lima hari tahun lalu di Ossetia Selatan, satu wilayah Georgia yang memberontak dengan didukung Rusia. Setelah perang itu, Rusia mengakui Ossetia Selatan dan satu wilayah Georgia lainnya yang juga membangkang Abkhazia, sebagai sebuah negara merdeka.
   
Kedua wilayah yang memberontak itu, Rabu mengatakan  mereka meningkatkan  keamanan untuk menghadapi pelatihan-pelatihan NATO, dengan Abkhazia  mengatakan pihaknya menempatkan pasukannya dalam "siaga tempur permanen."
   
"Kami tidak tahu tujuan akhir dari pelatihan ini," kata Jendral Anatoly Zaitsev , kepala staf umum Abkhazaia. yang dikutip  kantor berita Rusia Interfax.
   
"Situasi itu mendorong kami meningkatkan keamanan.... dan akan siaga tempur permanen," katanya.
   
Pemimpin Ossetia Selatan  Eduard Kokoity juga mengemukakan kepada Interfax  bahwa pasukan pemberontak  "meningkatkan keamanan untuk mencegah provokasi-provokasi Georgia."

 

Sumber :
Ant