Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 00:04 WIB
Obama Bisa Tersandung Dalai Lama
Josephus Primus | Rabu, 22 April 2009 | 19:19 WIB
|
Share:

BEIJING, KOMPAS.com — Rencana pertemuan Presiden Barack Obama dengan Dalai Lama pada Oktober 2009 mengandung bahaya akan kerusakan hubungan China dengan Amerika Serikat.
   
"China secara tegas menentang pemimpin Amerika Serikat bertemu dengan Dalai Lama, mengingat itu bentuk campur tangan dalam urusan negeri China," kata Fu Mengzi, sarjana bidang Amerika di perguruan tinggi China, seperti dikutip China Daily di Beijing pada Rabu (22/4).
   
Kantor berita Amerika Serikat AP mengabarkan bahwa Dalai Lama dijadwalkan bertemu dengan Presiden Obama pada Oktober tahun ini.
   
Hubungan China dengan Amerika Serikat berjalan lancar, terutama setelah Presiden Hu Jintao dan Presiden Obama untuk pertama kali bertemu pada 1 April di London, saat pertemuan tingkat tinggi G-20.
   
Dalam pertemuan itu, Obama menyetujui undangan Presiden Hu untuk berkunjung ke China pada tahun ini dan mengatakan bahwa hubungan kedua negara secara cepat sangat konstruktif. Kedua pemimpin itu juga mencapai kesepakatan mengenai sejumlah masalah umum pada G-20, termasuk Tibet, kata Fu.
   
"Obama akan melanggar konsensus tersebut jika bertemu dengan Dalai Lama. Itu akan memiliki dampak buruk bagi kerja sama China-Amerika Serikat berkenaan dengan kemelut keuangan dan keamanan kawasan, seperti, masalah nuklir di Semenanjung Korea," katanya.
   
George Bush, baik sang ayah maupun anaknya, serta Bill Clinton saat menjadi presiden melakukan pertemuan dengan Dalai Lama secara pribadi.
   
Pengulas menyatakan sangat berat kesimpulannya jika Obama jadi bertemu dengan Dalai Lama.
   
Ketika kampanye untuk pencalonan presiden pada Juli, Obama mengungkapkan dukungannya dalam surat kepada Dalai Lama. "Tapi, Obama sekarang, ketika menjadi presiden, harus menaksir dampak pertemuan itu bagi hubungan China dengan Amerika Serikat," kata Pang Zhongying, mahaguru hubungan antarbangsa di Universitas Renmin China.

Sumber :
Ant