BISHKEK, KOMPAS.com — Rusia, Senin (20/4), mengumumkan rencana-rencana untuk meningkatkan jumlah pesawat militer di pangkalan udaranya di Kirgistan. Ini merupakan upaya memperkuat posisi Rusia di Asia Tengah yang dianggapnya sebagai bagian dari lingkungan pengaruh tradisionalnya.
Pengumuman itu menyusul satu keputusan Kirgistan untuk menutup sebuah pangkalan udara yang dioperasikan AS di daerahnya tahun ini—satu tindakan yang dianggap luas sebagai satu kemenangan strategis bagi Rusia.
Dua pangkalan udara yang jauhnya hanya 30 kilometer, menandakan persaingan antara Rusia dan AS dalam perjuangan bagi pengaruh mereka di Asia Tengah.
Nikolai Bordyuzha, Sekjen Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (ODKB) yang berpusat di Moskwa, mengatakan, Rusia memutuskan untuk memperkuat angkatan udaranya di kawasan itu.
ODKB sering dicap sebagai saingan berat bagi NATO dan kelompok-kelompok yang menghimpun republik-republik pasca-Sovyet termasuk Rusia, Kirgistan, Armenia, Kazakhstan, dan lainnya.
"Para pemimpin Rusia berencana akan meningkatkan jumlah pesawat militer di pangkalan udara Kant," kata Bordyuzha kepada wartawan sewaktu berkunjung ke Kirgistan.
"Ini sejalan dengan situasi di Asia Tengah dan Afganistan," ujarnya.
Pangkalan udara Kant yang menampung sekitar 500 tentara dan sejumlah kecil pesawat militer, lebih kecil ketimbang fasilitas Manas, yang menampung lebih dari 1.000 personel.
Namun, Bordyuzha tidak mengatakan berapa banyak pesawat yang Rusia rencanakan akan ditempatkan di Kant, dan tidak memberikan penjelasan lebih jauh.
Pada Februari, Kirgistan memberikan waktu enam bulan kepada AS untuk menghentikan operasi-operasi di Manas, yang memegang satu peran penting dalam memasok pasukan pimpinan AS di Afganistan.
Presiden Kirgistan Kurmanbek Bakiyev mengumumkan keputusan itu saat mengunjungi Moskwa. Di situ, ia mendapat janji satu paket keuangan dua miliar dollar AS dari Rusia.
Rusia membantah bahwa pihaknya menuntut sesuatu dalam keputusan tersebut.
Akan tetapi, Moskwa terus menegangkan otot-ototnya di kawasan itu, ikut serta dalam pelatihan perang di Tajikistan akhir pekan lalu bersama China dan negara-negara Asia Tengah lainnya.
