Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 19:34 WIB
Chavez Jabat Tangan Obama dan Hadiahi Buku
Tri Mulyono | Minggu, 19 April 2009 | 19:33 WIB
|
Share:

AP PHOTO/EVAN VUCCI
Presiden Venezuela Hugo Chavez (kanan) menjabat tangan Presiden AS Barack Obama dan menghadiahi buku selama pertemuan negara-negara Amerika di Port-of-Spain, Trinidad dan Tobago, 18 April 2009.

TERKAIT:

PORT-OF-SPAIN, KOMPAS.com-Dalam pertemuan puncak negara-negara Benua Amerika di Trinidad dan Tobago, Sabtu (18/4), Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez dan menerima buku dari Chavez. Ini merupakan isyarat hubungan yang lebih hangat.

Meski keduanya sudah berjabat tangan saat bertemu pada hari Jumat, Chavez menjabat tangan Obama lagi pada hari Sabtu sambil memberi satu buku.

Saat menerima hadiah itu, Obama mengira buku itu mengenai Chavez. Namun, buku itu adalah versi bahasa Spanyol buku berjudul Open Veins of Latin Amerika: Five Centuries of Pillage of a Continent karya Eduardo Galeano, yang bercerita mengenai eksploitasi di wilayah itu.

Saat ditanya kesannya setelah bertemu dengan pengganti George W Bush itu, Chavez mengatakan: "Menurut saya itu adalah saat yang baik... Menurut saya Presiden Obama adalah orang pintar, dibandingkan presiden sebelumnya."

Masih belum jelas apakah kedua presiden ini akan melakukan pertemuan empat mata. Sebelumnya, di depan pertemuan itu, Obama memperingatkan para pemimpin Amerika Latin untuk tidak menyalahkan masalah di negara masing-masing pada Amerika Serikat.

Sementara itu, Chavez mengatakan berencana mengirim kembali dutabesar negaranya untuk Amerika Serikat. Chavez mengusir perwakilan Amerika Serikat di Caracas bulan September sebagai langkah "solidaritas" dengan Bolivia. Amerika Serikat kemudian mengambil langkah serupa.

Reaksi Amerika Serikat terhadap rencana paling baru Chavez itu, departemen luar negeri mengatakan "sedang mempersiapkan" pengembalian dutabesar negaranya di Venezuela. Pertikaian diplomatik bulan September itu muncul setelah muncul tuduhan Amerika berencana menggulingkan Presiden Bolivia Evo Morales.

Chavez merupakan pengkritik pemerintah Amerika Serikat dibawah George W Bush, dan menuduh Washington berencana membunuhnya.

Sumber :
AP,BBC