Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 20:32 WIB
IMF Lebih Pesimistis
| Sabtu, 18 April 2009 | 06:12 WIB
|
Share:

AP photo/MICHAEL PROBST
Markas Deutsche Bank di Frankfurt, Jerman. Bank terbesar di Jerman ini belum lama ini mengaku rugi 4 miliar dollar AS atau Rp 36,8 triliun pada kuartal pertama 2008 akibat krisis kredit perumahan di AS. Deutsche Bank merugi terkait dengan produk keuangan yang berkaitan dengan pasar real estat di AS yang merosot belakangan ini. Krisis kredit di AS ini telah menjerumuskan ekonomi AS dalam krisis yang berdampak kepada ekonomi global.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Di tengah optimisme bahwa perekonomian di AS sudah mulai membaik, laporan dari Dana Moneter Internasional menyatakan bahwa krisis global masih akan panjang dengan pemulihan yang lambat dan sulit. Tidak ada seorang pun yang dapat lolos dari krisis.

”Lemahnya aliran dana dari perekonomian negara berkembang akan memukul Eropa Timur,” ujar Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan semesteran World Economic Outlook.

”Resesi saat ini tampaknya akan luar biasa panjang dan parah. Pemulihan akan sulit,” demikian diungkapkan lembaga multilateral itu. IMF tidak memberikan perkiraan kapan dimulainya pemulihan resesi global yang pertama terjadi dalam enam dasawarsa terakhir ini akan mulai.

”Memang ada beberapa pertanda bahwa tekanan ini sudah mulai berkurang,” ujar ekonom IMF, Stephan Danninger, di Washington, Kamis (16/4). Akan tetapi, dia mengatakan, perbaikan apa pun hanyalah mengurangi tekanan ekstrem saja.

Direktur Pengelola IMF Dominique Strauss-Kahn juga menyerukan pernyataan senada dengan prognosis tersebut. ”Tahun 2009 dipastikan akan menjadi tahun yang sangat suram. Kami memperkirakan pertumbuhan global akan menjadi negatif. Ini merupakan krisis global yang sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang dapat luput,” ujarnya dalam pidatonya di National Press Club Washington.

IMF mengatakan, para penelitinya memerhatikan pola siklus bisnis pada 21 negara maju dari tahun 1960 hingga saat ini. Studi tersebut menemukan bahwa langkah mengucurkan stimulus fiskal efektif mengakhiri resesi. Adapun kebijakan moneter seperti pemangkasan pajak dapat memperpendek krisis, tetapi tidak terlalu efektif.

”Kebijakan yang terkoordinasi baik dari negara maju maupun berkembang diperlukan untuk mencegah kejatuhan yang lebih dalam lagi,” demikian laporan IMF tersebut.

Optimistis

Pandangan lebih optimistis datang dari AS dan Swiss. Jumlah orang yang menginginkan tunjangan pengangguran mencapai puncak pada awal April dan pembangunan rumah baru menurun bulan lalu. Akan tetapi, salah seorang pejabat tinggi Bank Sentral AS The Federal Reserve menyatakan dengan optimisme bahwa resesi akan berakhir.

”Hari ini, perekonomian masih sangat lemah, tetapi ada pertanda positif yang mendukung rasa optimisme,” ujar Gubernur Bank Sentral Atlanta Dennis Lockhart di New York, Kamis lalu.

Harga saham di Wall Street seolah mendapat angin segar dari laporan keuangan perusahaan yang membaik. Indeks Dow Jones naik 1,2 persen jadi 8.125.

”Saya tidak mengharapkan pemulihan cepat, tetapi saya berharap kontraksi ekonomi yang sedang kita alami memberikan peluang agar perekonomian dapat bertumbuh pada kuartal ketiga mendatang,” ujar Lockhart.

Senada dengan optimisme itu, para bankir di Swiss juga mengatakan bahwa perekonomian mereka sudah memasuki masa stabil walaupun mereka juga memperingatkan tahun 2010 masih akan merupakan tahun yang sulit.(Reuters/AFP/joe)

Sumber :
Kompas Cetak