KOMPAS
Senin, 22 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Korut Balik Mengancam
Rabu, 15 April 2009 | 05:53 WIB
 
 

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Utara, Selasa (14/4), mengancam akan keluar dari perundingan perlucutan senjata nuklir dan membuka kembali fasilitas nuklir. Langkah itu dilakukan sebagai protes atas kecaman Dewan Keamanan PBB terhadap peluncuran roket jarak jauh oleh Korea Utara.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Senin, sepakat secara bulat mengecam peluncuran roket oleh Korut pada 5 April dan menyatakan peluncuran itu melanggar resolusi DK PBB Nomor 1718. DK PBB juga memperkuat sanksi yang sudah dijatuhkan terhadap Pyongyang.

Korut menyatakan pembicaraan enam pihak sia-sia belaka dan negara itu tidak lagi tunduk pada kesepakatan apa pun yang dibuat dalam pembicaraan tersebut. ”Tak ada perlunya lagi pembicaraan enam pihak. Kami tidak akan ambil bagian dalam pembicaraan seperti itu dan tidak tunduk pada kesepakatan apa pun yang dicapai pembicaraan itu,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Korut.

Pembicaraan enam pihak melibatkan Korut, China, Jepang, Korea Selatan, AS, dan Rusia. Dimulai tahun 2003, pembicaraan itu dimaksudkan untuk mencapai denuklirisasi Korut. Proses pembicaraan menemui jalan buntu selama beberapa bulan terakhir terkait cara verifikasi aktivitas nuklir Korut di masa lalu.

”Kami akan mempertimbangkan pembangunan reaktor nuklir air ringan sendiri, menghidupkan lagi fasilitas nuklir, dan memproses ulang batang bahan bakar nuklir yang telah digunakan,” lanjut pernyataan Korut.

Pyongyang mematikan reaktor nuklir Yongbyon yang memproduksi plutonium untuk senjata pada Februari 2007 sebagai imbalan 1 juta ton bahan bakar dan konsesi lainnya.

Korut juga menuding PBB menerapkan standar ganda. ”Menurut logika AS, Jepang boleh meluncurkan satelit karena Jepang adalah sekutu AS. Akan tetapi, kami tidak boleh melakukannya karena sistem kami berbeda dan kami tidak tunduk pada AS,” sebut pernyataan itu.

Korut mengklaim peluncuran satelit itu untuk tujuan damai, tetapi AS, Jepang, dan Korsel menilai Korut meluncurkan rudal balistik jarak jauh.

Lebih nyata

Menanggapi langkah Korut, Jepang menyerukan agar Korut kembali ke pembicaraan enam pihak. Rusia juga menyesalkan keputusan Korut untuk berhenti dari pembicaraan enam pihak.

China menyerukan kepada semua pihak yang terlibat pembicaraan enam pihak untuk tenang dan menahan diri. ”Kami berharap semua pihak memerhatikan gambaran yang lebih luas, tenang, dan menahan diri serta melindungi proses pembicaraan enam pihak,” kata Jiang Yu, jubir Kementerian Luar Negeri China.

Analis mengatakan, ancaman Korut kali ini lebih nyata. ”Pernyataan Korut selalu merupakan campuran antara bualan dan ancaman sebenarnya. Namun, saya kira ancaman kali ini lebih nyata,” kata Shi Yinhong, pakar keamanan regional pada Renmin University, Beijing.

Kim Yong-hyun, analis dari Dongguk University, Seoul, mengatakan, respons Pyongyang memunculkan kemungkinan provokasi senjata. ”Pernyataan keras Korut berarti ketegangan akan meningkat di Semenanjung Korea. Korut tengah menaikkan taruhannya,” kata Kim.(ap/afp/reuters/fro)

Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.