Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Senin, sepakat secara bulat mengecam peluncuran roket oleh Korut pada 5 April dan menyatakan peluncuran itu melanggar resolusi DK PBB Nomor 1718. DK PBB juga memperkuat sanksi yang sudah dijatuhkan terhadap Pyongyang.
Korut menyatakan pembicaraan enam pihak sia-sia belaka dan negara itu tidak lagi tunduk pada kesepakatan apa pun
Pembicaraan enam pihak melibatkan Korut, China, Jepang, Korea Selatan, AS, dan Rusia. Dimulai tahun 2003, pembicaraan itu dimaksudkan untuk
”Kami akan mempertimbangkan pembangunan reaktor nuklir air ringan sendiri, menghidupkan lagi fasilitas nuklir, dan memproses ulang batang bahan
Pyongyang mematikan reaktor nuklir Yongbyon yang memproduksi plutonium untuk senjata pada Februari 2007 sebagai imbalan 1 juta ton bahan bakar dan konsesi lainnya.
Korut juga menuding PBB menerapkan standar ganda. ”Menurut logika AS, Jepang boleh meluncurkan satelit karena
Korut mengklaim peluncuran satelit itu untuk tujuan damai, tetapi AS, Jepang, dan Korsel menilai Korut meluncurkan rudal balistik jarak jauh.
Menanggapi langkah Korut, Jepang menyerukan agar Korut kembali ke pembicaraan enam pihak. Rusia juga menyesalkan keputusan Korut untuk berhenti dari pembicaraan enam pihak.
China menyerukan kepada semua pihak yang terlibat pembicaraan enam pihak untuk tenang dan menahan diri. ”Kami berharap semua pihak memerhatikan gambaran yang lebih luas, tenang, dan menahan diri serta melindungi proses pembicaraan enam pihak,” kata Jiang Yu, jubir Kementerian Luar Negeri China.
Analis mengatakan, ancaman Korut kali ini lebih nyata. ”Pernyataan Korut selalu merupakan campuran antara bualan dan ancaman sebenarnya. Namun, saya kira ancaman kali ini lebih nyata,” kata Shi Yinhong, pakar keamanan regional pada Renmin University, Beijing.
Kim Yong-hyun, analis dari Dongguk University, Seoul, mengatakan, respons Pyongyang memunculkan kemungkinan provokasi senjata. ”Pernyataan keras Korut berarti ketegangan akan meningkat di Semenanjung Korea. Korut tengah menaikkan taruhannya,” kata Kim.(ap/afp/reuters/fro)