SEOUL, KOMPAS.com - Embusan angin kencang diperkirakan telah menunda sementara upaya Korea Utara untuk meluncurkan sebuah roket yang dikhawatirkan AS dan beberapa negara sebagai uji coba rudal jarak jauh. Setidaknya kekuatan angin dinilai lebih potensil ketimbang diplomasi yang selama ini dinilai gagal mengurungkan niat Pyongyang tersebut.
Embusan angin kencang mengakibatkan peluncuran roket Korea Utara itu tertunda sehari. Media Korea Utara menyebutkan persiapan peluncuran satelit komunikasi eksperimental ke ruang angkasa telah lengkap dan akan segera diluncurkan.
Namun, embusan angin di sekitar lokasi peluncuran di timur laut Korea Utara "relatif kencang" pada pertengahan hari Sabtu (4/4) waktu setempat. Bahkan beberapa analis menjelaskan embusan angin terlalu kencang untuk memuluskan peluncuran roket Taepodong-2.
Selama beberapa pekan sejak Korea Utara mengumumkan niatnya mengirim sebuah satelit ke ruang ruang angkasa dengan roket bermanuver jarak jauh, beberapa diplomat dari 5 negara telah menekan Pyongyang agar membatalkan rencananya itu. Para diplomat ini menekankan peluncuran itu melanggar resolusi PBB yang melarang Pyongyang terlibat aktivitas balistik.
Korea Utara telah menekankan bahwa peluncuran roket itu merupakan langkahnya untuk mengembangkan program ruang angkasa. Korea Utara telah menginformasikan jawatan maritim dan penerbangan internasional bahwa peluncuran roket itu akan berlangsung antara 4 atau 8 April, pukul 11.00 atau 16.00.
Namun, AS bersama Korea Selatan, Jepang serta beberapa negara lain mencurigai peluncuran itu sebagai uji coba Pyongyang terhadap teknologi rudal jarak jauh. Teknologi ini diyakini merupakan langkah maju Korea Utara untuk mencapai peluncuran hulu ledak nuklir dengan sebuah rudal yang dapat mencapai Alaska atau wilayah yang lebih jauh lagi.

