LONDON, KOMPAS.com
Lee juga menjelaskan, kesehatan Pemimpin Korut Kim Jong-il, yang diyakini luas terkena stroke pada tahun lalu, tampaknya semakin membaik dan dia sepertinya akan terus memegang kekuasaannya. Pihak Korut sebelumnya telah mengumumkan akan meluncurkan roketnya antara 4-8 April dan memperingatkan seluruh penerbangan untuk menghindari kawasan timur Korut dan lintasan yang akan dilalui roket tersebut.
Persiapan peluncuran roket itu terus dilakukan meski AS, Jepang, Korsel, Uni Eropa, dan banyak lagi negara lainnya mendesak Korut agar membatalkan peluncuran roket tersebut. Prakiraan cuaca di sekitar tempat peluncuran roket Musudan-ri di pantai timur Korut untuk Sabtu dilaporkan akan berawan dengan tiupan angin yang lemah.
Artinya, Korut bisa melakukan peluncuran roket selama periode itu. Keyakinan waktu peluncuran pada hari Sabtu juga disampaikan Perdana Menteri Jepang Taro Aso.
Menjelang peluncuran roket itu, New York Times (NYT) kemarin melaporkan, pemerintah di negara-negara tetangga Korut, Jumat (3/4), langsung memberlakukan siaga tinggi.
Jepang, Korsel, dan AS telah mengerahkan kapal-kapal AL mereka untuk mengikuti pergerakan roket Korut itu. Sementara itu, Korut dilaporkan juga memindahkan jet-jet tempurnya lebih dekat ke tempat peluncuran roket sebagai sinyal ancaman untuk melakukan serangan balasan jika ada pihak yang mencoba menghentikan roketnya.
Pada pertemuan dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon di sela-sela KTT G-20, Presiden Korsel sepakat bahwa penembakan roket jarak jauh Korut itu akan menimbulkan dampak negatif terhadap perdamaian dan stabilitas di timur laut Asia. Lee menentang penggunaan tindakan militer atas roket Korut itu, tetapi menyerukan reaksi yang ”bersatu dan tegas” oleh masyarakat internasional.

