LONDON, KOMPAS.com — Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, Jumat (3/4), dijadwalkan pulang setelah empat hari melakukan kunjungan ke Inggris untuk mendukung ’aksi keras’ menentang rencana peluncuran roket Korea Utara, dan untuk menggalang persatuan menghadapi kemerosotan ekonomi global.
Prestasi terbesar Lee terjadi pada pernyataan bersama yang dikeluarkan pada akhir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ekonomi G-20 di London, Kamis, ketika para pemimpin 20 negara ekonomi kuat sepakat untuk melakukan apa yang dia namakan ’tindakan-tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya’ untuk memerangi proteksionisme perdagangan dan keuangan.
"Merosotnya permintaan diperburuk oleh makin meningkatnya tekanan-tekanan proteksionis dan mundurnya kredit perdagangan. Padahal, penguatan kembali perdagangan dunia dan investasi adalah penting untuk memulihkan kembali pertumbuhan global. Kami tidak akan mengulangi kesalahan sejarah proteksionisme pada era-era sebelumnya," kata pernyataan bersama tersebut.
Mantan CEO perusahaan konstruksi besar di Korea itu telah memberikan saran bagi pasar bebas, pada saat 70 persen ekonomi negaranya tergantung di bidang perdagangan.
Ekonomi Korea Selatan turun 5,1 persen pada kuartal terakhir 2008, yang merupakan kontraksi pasar terbesar sejak kuartal pertama tahun 1998.
Agenda besar lainnya bagi Presiden Korea Selatan adalah ikut ambil bagian dalam pertemuan puncak G-20 di London, untuk menjamin dukungan bagi seruan bersama mengenai Korea Utara untuk membatalkan rencana peluncuran roketnya.
Upaya-upaya Lee tersebut dikemukakan Kamis, ketika dia dan Presiden AS Barack Obama, dalam pertemuan puncak bilateral, menyetujui upaya pemberian sanksi-sanksi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terhadap Korea Utara, jika Pyongyang tetap bertekad melakukan peluncuran.
Presiden AS juga menegaskan dalam pertemuan itu bahwa Washington sekarang sedang mempersiapkan suatu rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB, yang secara luas diperkirakan mengecam peluncuran dan juga memberlakukan berbagai sanksi ekonomi dan politik.
Perdana Menteri Jepang Taro Aso dan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown adalah di antara kepala negara lain yang ikut mendukung seruan Presiden Korea Selatan terhadap Korea Utara agar membatalkan peluncuran roketnya.
"Peluncuran roket jarak jauh oleh Korea Utara akan melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1718, dan dua kepala negara menyepakati untuk bekerja sama mempromosikan tindakan balasan bersama oleh masyarakat internasional," kata kantor kepresidenan Seoul mengenai pembicaraan bilateral, Rabu, antara Lee dan Aso.
Korea Utara saat ini dilarang untuk melakukan kegiatan berkaitan dengan rudal berdasarkan resolusi Dewan Keamanan yang dikeluarkan 2006, tak lama setelah Pyongyang melakukan uji coba nuklir pertamanya.
Pyongyang mengatakan, pihaknya akan meluncurkan satu satelit komunikasi antara Sabtu dan Rabu depan, namun Seoul dan Washington meyakini bahwa peluncuran itu hanyalah kedok untuk uji coba rudal balistiknya.
Laporan-laporan media pekan ini mengatakan, Korea Utara mulai mengisi bahan bakar untuk roketnya, suatu pertanda peluncuran akan dimulai, menurut para pakar.
Dalam pertemuan puncak bilateral Lee dengan timpalannya dari AS, yang pertama kalinya sejak Obama mengambil alih kekuasaan Januari, juga menempatkan Korea sebagai pusat perhatian pertemuan para pemimpin dunia pada pekan ini.
"Kami, para pemimpin Korea dan AS, mengkonfirmasikan kembali bahwa hubungan kami bukan hanya resmi, namun lebih dari itu kami menyetujui kerja sama erat mengenai berbagai masalah yang menjadi perhatian bersama, termasuk masalah Korea Utara," kata Lee dalam suatu konferensi pers.
Obama mengatakan pada permulaan KTT pertamanya dengan Lee bahwa Korea adalah ’salah satu sekutu terdekat dan sahabat terbesar Amerika'.

