BEIJING, KOMPAS.com — China secara tegas membantah melakukan mata-mata cyber seperti dituduhkan sejumlah pihak dan menyebut tuduhan itu kebohongan.
"China melakukan mata-mata komputer di dunia adalah bohong dan tuduhan itu merupakan upaya menodai China sebagai kekuatan raksasa di Asia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Qin Gang dalam keterangan pers rutin, Selasa (31/3).
Dikatakannya, sejumlah pihak di luar China melakukan kebohongan dengan menyebutkan China melakukan mata-mata cyber. Pihak tersebut, katanya, berupaya menodai China dengan sejumlah kebohongan tak berdasar.
China, katanya, bahkan selalu menentang berbagai bentuk tindak kejahatan di internet, termasuk di antaranya pembajakan dari komputer ke komputer lain. "Sikap perang dingin diarahkan ke Beijing ketika dinyatakan bahwa kemajuan China sebagai kekuatan dunia merupakan ancaman antarbangsa," kata Qin Gang tegas.
Ia menyatakan, kebohongan itu bukan yang pertama diarahkan ke China, yang selama ini dituduh sebagai sumber serangan komputer.
Sejumlah peneliti di Kanada membongkar jaringan mata-mata elektronik cyber yang menyusup ke komputer serta mencuri dokumen dari kantor pemerintah dan swasta di seluruh dunia, termasuk dari Indonesia.
Dalam laporan kepada surat kabar, kelompok dari Munk Center for International Studies di Toronto menyatakan, sedikitnya 1.295 komputer di 103 negara diretas dalam waktu kurang dari dua tahun oleh sistem mata-mata yang disebut GhostNet.
Kedutaan besar, kementerian luar negeri, kantor pemerintah, dan pusat pengasingan pemimpin Tibet, Dalai Lama, di India, Brussels, London, dan New York termasuk di antara yang diterobos. Demikian dikatakan peneliti tersebut.
Peneliti tersebut menyimpulkan bahwa komputer yang secara eksklusif berpusat di China bertanggung jawab atas penerobosan itu meskipun mereka tak mengatakan Pemerintah China terlibat dalam jaringan tersebut.
Sistem tersebut dipusatkan pada pemerintah di negara Asia Selatan dan Asia Tenggara serta di kantor Dalai Lama, kata peneliti itu, yang menambahkan bahwa semua komputer di Kedutaan Besar India di Washington juga disusupi dan satu komputer NATO dipantau.


