BAGHDAD, KOMPAS.com - Pasukan keamanan Irak didukung oleh tentara Amerika Serikat (AS), Minggu (29/3), mengambil alih penuh kontrol suatu permukiman Sunni di Baghdad tengah, setelah dua hari terlibat baku tembak dengan gerilyawan setempat, kata seorang sumber dan para saksi mata.
Pasukan keamanan Irak telah mengambil kontrol permukiman Sunni di Fadel, daerah bekas benteng pertahanan para pejuang Al Qaeda. Mereka telah merazia daerah itu dari rumah ke rumah, memerintahkan para gerilyawan untuk menyerahkan senjata, kata seorang sumber pada kementerian dalam negeri yang tak mau disebut namanya.
Menurut penduduk setempat, permukiman itu kembali damai, dan pasukan keamanan Irak telah membuat markas besar sementara di permukiman tersebut, serta memerintahkan para gerilyawan untuk menyerahkan senjata mereka kepada tentara.
"Siapa pun yang masih membawa senjata akan dianggap sebagai teroris," kata pasukan keamanan, melalui alat-alat pengeras suara.
Pasukan Irak memblokade pintu masuk ke permukiman itu sejak terjadinya pertempuran sengit, Sabtu petang, setelah penahanan Adel al-Mashhadani, ketua kelompok Dewan Kebangkitan setempat, dan pembantunya.
"Para penduduk permukiman itu bekerja sama dengan pasukan keamanan Irak, dan mereka menyerahkan senjata mereka tanpa timbul masalah," kata media Irak, mengutip Jenderal Qassim Atta, juru bicara Komando Militer Baghdad.
Pada Sabtu lalu, Atta mengatakan, dua pemimpin kelompok tersebut ditahan, berdasarkan surat perintah penahanan pengadilan.
Ketegangan meningkat di ibu kota Baghdad setelah terjadinya pertempuran antara pasukan Irak dan kelompok Dewan Kebangkitan itu, yang mencuatkan kecemasan-kecemasan baru berkaitan dengan stabilitas negara yang porak poranda akibat perang tersebut.
Berlokasi di sisi timur Sungai Tigris yang membelah ibu kota Irak, distrik Fadel adalah suatu permukiman tua dan miskin kelompok Sunni, yang dikelilingi oleh permukiman-permukiman kelompok Syiah.
Kelompok-kelompok Dewan Kebangkitan yang didukung AS, sebagian besar adalah para pemberontak Sunni anti-AS yang telah menyerahkan senjata mereka terhadap gerilyawan Al Qaeda, setelah melakukan pembunuhan membabi buta terhadap kedua komunitas, Syiah dan Sunni.

