WASHINGTON,KOMPAS.com-Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan membahas peluncuran roket Korea Utara pekan depan ketika ia bertemu empat mata dengan Presiden China Hu Jintao di sela konferensi tingkat tinggi (KTT) Ekonomi G20 di London.
"Kami jelas ingin ambil kesempatan untuk membahas keprihatinan bersama kami tentang persiapan peluncuran itu di Korea Utara yang kami pandang bertentangan dengan resolusi 1718 Dewan Keamanan PBB," kata Denis McDonough, wakil penasihat keamanan nasional Gedung Putih, yang menyebutkan agenda pertemuan bilateral itu, Sabtu (28/3).
Keterangan itu keluar di tengah-tengah laporan bahwa China, sekutu Korea Utara yang komunis, mungkin tak bergabung dengan AS dan para sekutunya untuk memberlakukan sanksi atas Korea Utara jika peluncuran itu jadi dilaksanakan. China bersama dengan Rusia telah mendesak semua pihak terkait untuk menahan diri.
Korea Utara menyatakan pihaknya bermaksud meluncurkan satelit komunikasi ke angkasa luar. Peluncuran itu dijadwalkan berlangsung antara 4-8 April bertepatan dengan KTT G20 di London yang bertujuan mengatasi krisis ekonomi global.
AS telah mengancam membawa Korea Utara ke Dewan Keamanan PBB untuk diberi sanksi lebih lanjut. Para pejabat intelijen regional menyangka peluncuran itu hanyalah kedok untuk menguji coba peluru kendali balistik yang mampu menyerang Alaska.
Korea Utara telah memperingatkan setiap tindakan akan mengarah pada dihentikannya pembicaraan enam-pihak mengenai diakhirinya program senjata nuklirnya. Perundingan-perundingan terhenti sejak Desember tentang bagaimana memverifikasi kegiatan-kegiatan nuklir Korea Utara.
China menjadi tuan rumah pembicaraan nuklir multilateral yang mulai berlangsung 2003.
Para utusan nuklir dari Korea Selatan, AS dan Jepang bertemu di Washington, Jumat membahas peluncuran roket Korea Utara untuk dibawa ke Dewan Keamanan PBB. Mereka mengatakan setiap peluncuran roket -- apakah membawa satelit atau rudal -- merupakan bentuk pelanggaran resolusi PBB yang disahkan pada 2006 setelah uji coba rudal Korea Utara yang gagal.
Resolusi itu melarang aktivitas rudal balistik oleh Korea Utara. Namun, China dan Rusia, dilaporkan menentang sanksi baru jika sebuah roket diluncurkan untuk membawa sebuah satelit.
