GAZA CITY, KOMPAS.com -
Abis Hijeh menceritakan, ketika dia dikeluarkan dari rumah bersama kelima anaknya dan juga para tetangga dari rumahrumah mereka di Gaza City, tentara Israel dengan bahasa Arab sebisanya memerintahkan agar mereka pergi ke selatan. Tentara Israel mengancam akan menembak mereka jika tidak mematuhi perintah itu.
Namun, karena tegang, warga kemudian pergi ke arah yang salah dan kemudian dihujani tembakan oleh tentara Israel. Hijeh terluka dan seorang putrinya yang berusia dua tahun tewas.
Pengakuan Hijeh mengenai para penembak jitu yang menembaki warga sipil mendukung kuat tuduhan bahwa tentara Israel telah melakukan perbuatan yang tidak semestinya selama agresi militer di Jalur Gaza pada akhir tahun 2008 dan awal Januari 2009.
Dalam pengakuan baru-baru ini, beberapa tentara Israel mengaku mencoreti rumah-rumah yang mereka kuasai untuk digunakan sebagai pos tentara. Mereka juga mengakui melonggarkan aturan-aturan, termasuk penembakan terhadap warga sipil.
Beberapa tentara berbicara di sebuah sekolah persiapan militer dalam pertemuan tertutup. Di sana tergambarkan sebuah insiden yang memiliki banyak kesamaan dengan penembakan terhadap keluarga Hijeh.
Pengakuan para tentara itu dipublikasikan di dua surat kabar Israel, pekan lalu. Hal ini memicu kemarahan baru komunitas internasional terhadap Israel. Serangan itu dikecam berlebihan dan Israel gagal melindungi warga sipil.
Beberapa pejabat militer senior Israel telah mengakui penggunaan kekuatan senjata secara massal untuk menangkal serangan dari pejuang Hamas serta bertujuan mencegah korban prajurit Israel.
Meski demikian, juru bicara Angkatan Darat Israel, Mayor Avital Leibovich, mengatakan, militernya telah melakukan segenap upaya guna menyelamatkan warga sipil Palestina. Hal itu antara lain dilakukan melalui selebaran dan telepon agar warga segera mengungsi.
Sejumlah insiden yang digambarkan beberapa tentara Israel itu kini tengah diselidiki. Kepala Staf Angkatan Darat Israel Letjen Gabi Ashkenazi pekan ini mengatakan, kalau kisah-kisah itu terbukti benar, hal itu hanya pengecualian, bukan sebuah norma.
Dalam pengakuan yang paling mengguncang, seorang tentara yang disebutkan sebagai Ram, mengatakan, seorang penembak jitu di tempatnya menembak seorang perempuan Palestina dan dua anaknya, setelah mereka salah memahami perintah dan berjalan ke arah lain.
Seorang tentara lainnya, Aviv, menggambarkan seorang penembak jitu menewaskan seorang perempuan tua saat dia berjalan di jalan. Kedua tentara itu berasal dari Brigade Givati, yang semasa perang ditempatkan di kawasan Zeitoun, Gaza City.
Mohammed Ghannam, seorang peneliti lapangan dari organisasi Pusat Hak Asasi Manusia Palestina, mengatakan, kisah kedua tentara itu sangat cocok dengan kisah yang disampaikan Hijek dan keluarga Ayyad yang tinggal di Zeitoun.
Penembakan dilakukan dari rumah warga yang diambil alih tentara Israel. Bekas-bekas pendudukan Israel di sejumlah rumah warga Palestina itu mudah ditemukan.
