KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Paus: Agama Harus Menolak Kekerasan!
Jumat, 20 Maret 2009 | 09:38 WIB
(AP Photo/Themba Hadebe)
Seorang anak perempuan Angola meneguk air minum di sisi spanduk wajah Paus Benediktus XVI di Luanda, Angola, Kamis (19/3/2009).
TERKAIT:

YAOUNDE, KOMPAS.com — Agama harus menolak kekerasan. Pesan Paus Benediktus XVI ini disampaikannya secara langsung saat menerima 22 pemimpin agama yang mewakili minoritas Muslim di Kamerun.

Pesan Paus itu disampaikannya sebelum menghadiri misa terbuka di hadapan ribuan umat serta menyampaikan pesan harapan terhadap negara yang mengalami perkembangan misi Gereja Katholik Roma terbesar di Afrika ini. Di ibu kota Kamerun, Yaounde, sekitar 40.000 orang yang memadati sebuah stadion olahraga untuk menghadiri misa terbuka yang dipimpin Paus Benediktus XVI meluapkan sukacita mereka dengan bertepuk tangan dan bersorak saat menyambut pemimpin Gereja Katholik Roma ini.

Paus Benediktus mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib anak-anak Afrika yang diculik dan dipaksa untuk bertempur bersama kelompok pemberontak yang berjuang di beberapa wilayah Afrika.  "Tuhan mengasihimu, Ia tak akan melupakanmu," kata Paus saat menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib anak-anak tersebut.

Pidato Paus mendapatkan sambutan meriah dari kerumunan umat yang menghadiri misa terbuka saat pidato itu ditujukan ke nasib para anak yatim piatu, kaum papa, anak-anak yang menjadi korban pelecehan hingga mereka yang dipaksa bergabung dengan angkatan bersenjata.

Tentara anak di bawah usia dikerahkan oleh pemberontak di Kongo timur dan Pasukan Perlawanan Penguasa Uganda. Diperkirakan terdapat 3.500 anak-anak yang masih bergabung dengan kelompok bersenjata di Kongo.

Penulis: JIM   |     |   Sumber : AP Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.