Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:17 WIB
Sisi Optimistis soal Irak
| Jumat, 20 Maret 2009 | 05:17 WIB
|
Share:

Getty Images
Puluhan ribu masyarakat Irak melakukan reli di Kota Baghdad tolak perpanjangan waktu kehadiran tentara Amerika Serikat di Irak.
 
 

KOMPAS.com - Di tengah kematian lebih dari 90.000 orang dan eksodus 2 juta warga sejak invasi AS pada 20 Maret 2003, Irak juga memiliki sekelumit kisah baik, atau katakanlah optimisme.

Ingatan Muna Umm Maiss (42) masih jelas saat AS melakukan invasi. ”Keadaan kacau dan menjadi kenangan terburuk sepanjang hidup saya. Saya sedang berada di rumah bersama suami, seorang tentara dan teknisi, bersama anak-anak kami. Mendadak tidak ada siaran televisi dan radio. Kami sadar apa yang terjadi,” kata Muna.

Hari-hari berikutnya, seluruh anggota keluarga bertahan di rumah, di kawasan Mansur—ketika itu tergolong daerah paling makmur di Baghdad. ”Pengeboman berlanjut. Dua anak saya terluka akibat pecahan kaca. Semua orang mencoba keluar dari kompleks kami. Setengah dari rumah kami hancur,” katanya.

Kemudian putri saya dan suaminya berangkat menuju Malaysia karena ada ancaman kematian. ”Apa yang Anda harapkan dari saya sekarang soal invasi itu? Apakah ada hal baik?”

Setelah invasi, Irak ada di lingkaran kematian, yang diiringi naiknya kekuasaan Syiah menggantikan Sunni, yang juga dilengkapi dengan aksi saling serang berkelanjutan.

Enam tahun kemudian, jalanan di Mansur memiliki dua sisi, yakni berubah dan sekaligus tetap sama saja. Di permukaan terlihat perubahan dengan keberadaan telepon seluler, iklan-iklan komersial, CD dan DVD, sekaligus aliran listrik yang mati hidup. Juga masih ada tembok-tembok dengan lubang besar karena hantaman bom-bom yang dijatuhkan tentara AS, yang menjadi saksi invasi. Demikianlah kenangan Muna, Irak berubah sekaligus tetap sama.

Bisnis pesat

Keadaan yang lebih baik dirasakan oleh Khalid, yang kini bisa menjual dasi dan pakaian buatan Turki. Penjualan atas produk-produk itu meningkat pesat dalam enam tahun terakhir. Dia merasakan Irak yang kini lebih baik.

”Sebelum tahun 2003, kami hanya menjual produk lokal dan hanya sedikit buatan Suriah,” kata Khalid, ayah dari tiga anak, yang termuda lahir tahun 2004, setahun setelah Saddam Hussein terjungkal dan kemudian dieksekusi mati.

Pada Maret 2003, Khalid sudah merasakan invasi akan terjadi. ”Sepekan sebelum invasi, saya menutup toko. Beberapa bulan kemudian saya membuka toko dan kini bisnis berjalan baik. Dulu saya mengendarai mobil buatan Brasil produksi 1987, tetapi sekarang saya memiliki mobil merek Kia terbaru. Saya punya keluarga dan kini tak lagi menderita. Hidup menyenangkan,” katanya.

Toko lain milik Ali Jaffar, kini menjual perhiasan asal Dubai. Dia merasakan penjualan yang laris.

Bukan itu saja. ”Kami memiliki hidup dan kebebasan yang lebih baik. Kami tinggalkan kenangan buruk di belakang. Harga-harga kebutuhan pokok mahal? Saya kira tidak,” kata Ali (40), pemeluk Muslim Syiah. (AFP/MON)

Sumber :
Kompas Cetak