Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 10:23 WIB
Meresahkan, Penutupan Perbatasan Korea Utara
Jimmy Hitipeuw | Senin, 16 Maret 2009 | 07:56 WIB
|
Share:

(Getty Images/JUNG YEON-JE)
Pasukan AS menyeberangi sebuah jembatan dalam latihan perang gabungan bersama pasukan Korea Selatan di Pocheon, dekat Zona Demiliterisasi, yang membelah kedua Korea, 10 Maret 2009

TERKAIT:

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan menyesalkan tindakan Pyongyang, Minggu (15/3), untuk melarang adanya penyeberangan lintas perbatasan oleh pekerja di wilayah industri gabungan di Korea Utara. Pyongyang pertama kali menutup jalur khusus perbatasannya itu pada 9 Maret lalu sebagai upaya memprotes latihan perang yang berkelanjutan antara Korea Selatan dan AS.

Kedua Korea menggunakan jalur khusus itu untuk penyeberangan barang dan orang di tengah ketatnya pengawasan keamanan perbatasan kedua negara. Korea Utara membuka kembali lintas perbatasan itu Selasa (10/3) tetapi kembali menutupnya Jumat (13/3) sehingga mengakibatkan terlantarnya pekerja di kompleks Kaesong.  

Kompleks itu mengabungkan tenaga kerja ahli Korea Selatan di bidang teknologi dan manajemen dengan buruh murah Pyongyang. Kompleks industri tersebut selama ini dijadikan salah satu sumber penghasilan dari Korea Utara yang sangat bergantung pada aliran dana dana segar.

Lebih dari 100 pekerja Korea Selatan di Kaesong mempekerjakan sekitar 38.000 buruh Korea Utara. Hampir 730 warga Korea Selatan terkurung di kompleks Kaesong Minggu setelah Pyongyang menutup perbatasannya tetapi para pekerja ini dipastikan tidak mendapatkan ancaman terhadap keselamatan jiwa mereka.
    
Langkah Korea Utara itu "sangat disesalkan," kata Menteri Unifikasi Hyun In-taek dalam pertemuannya dengan pengusaha Korea Selatan yang mengelola pabrik di kompleks industri itu. Pengekangan lintas perbatasan yang diberlakukan Pyongyang telah menimbulkan kegelisahan di kalangan pengusaha Korea Selatan yang mengelola pabrik di wilayah industri gabungan kedua negara.

Secara teknis, kedua Korea masih berada dalam kondisi perang karena kedua negara mengakhiri perang antara tahun 1950-1953 dengan kesepakatan gencatan senjata, bukan dengan kesepakatan damai. Ketegangan di semenanjung Korea telah meningkat beberapa pekan terakhir setelah Korea Utara mengumumkan rencana untuk meluncurkan satelit yang diyakini oleh negara terkemuka regional mencakup uji coba rudal jarak jauh.

Sumber :
AP