KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Tutup Perbatasan, Kim Puji Rezimnya Kokoh
Senin, 16 Maret 2009 | 06:19 WIB
 
 

SEOUL, KOMPAS.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il meyakini dan memuji rezim komunisnya yang ”kokoh”. Pernyataan itu seolah untuk lebih memacu semangat militernya dalam menghadapi ketegangan yang semakin meningkat, terkait persiapan peluncuran roket oleh Korut yang ditentang banyak negara di sekitarnya.

Kantor berita resmi Korea Utara (Korut), KCNA, Minggu (15/3), melaporkan, pernyataan tersebut disampaikan saat pemimpin Korut itu menyaksikan salah satu unit artilerinya melakukan latihan penembakan dengan peluru sesungguhnya, di sebuah lokasi yang tidak disebutkan.

”Benteng sosialis kita kokoh dan semangat revolusioner kita akan terus meraih kemenangan demi kemenangan karena kita mempunyai para elite-elite yang seperti baja,” ungkap Kim.

Korut telah memberitahukan badan-badan penerbangan dan maritim internasional mengenai rencana meluncurkan sebuah satelit komunikasi, 4-8 April.

Korea Selatan (Korsel) dan AS mengatakan peluncuran itu adalah sebuah selubung dari uji coba peluru kendali (rudal) Taepodong-2, yang secara teknis mampu menjangkau Alaska, Amerika Utara. Peluncuran itu akan menjadi uji coba rudal jarak jauh Korut ketiga sejak 1998.

Tutup perbatasan

Menjelang peluncuran itu, Korut sejak Senin (9/3) mematikan jaringan telepon dan faksimile militer yang digunakan untuk menyetujui aktivitas melintas perbatasan Korut-Korsel. Korut juga menyiagakan 1,2 juta personel militernya untuk siap tempur, untuk memprotes latihan militer bersama Korsel-AS yang sedang berlangsung. Korut menganggap latihan militer yang diikuti puluhan ribu tentara itu ditujukan sebagai persiapan untuk ”perang Korea kedua”.

Perbatasan kedua Korea pun resmi ditutup mulai Jumat (13/3) hingga Minggu (15/3). Hal itu membuat ratusan pekerja Korsel tertahan di Korut.

Menteri Unifikasi Korsel Hyun In-taek mendesak Korut agar mengizinkan para pebisnis untuk bisa melakukan perjalanan dengan bebas, menuju dan dari Korsel ke kawasan industri Kaesong yang dibiayai Korsel, di utara perbatasan.

Kementerian Unifikasi Korsel melaporkan, 427 orang tidak diizinkan kembali ke rumah dari Kaesong, Jumat (13/3) dan Sabtu (14/3). ”Tindakan sepihak Korut seperti ini bukan hanya melecehkan kesepakatan antar-Korea, tetapi juga melanggar regulasi Korut sendiri,” ujar Hyun.

Sementara di Pyongyang, militer dan partai berkuasa Korut semakin meningkatkan kampanye untuk mengangkat salah satu dari tiga putra Kim Jong Il sebagai calon pengganti pemimpin Korut tersebut.

Surat kabar Jepang, Asahi Shimbun, Minggu, melaporkan, Partai Pekerja Korut yang berkuasa pada 1 Desember lalu telah menyebarkan instruksi untuk memajukan calon pengganti dari garis keturunan Kim. Hal itu kemudian diikuti oleh militer Korut yang mengeluarkan perintah serupa, 20 Desember lalu.

Meski sepaham para calon pengganti harus dari garis keturunan Kim, perbedaan mencuat mengenai anak Kim yang mana yang harus diorbitkan. Ketiga anak Kim, Jong Nam (37), Jong Chul (27), dan Jong Un (25), sama-sama berpeluang menjadi pengganti ayahnya. (AP/AFP/OKI)

Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.