SEOUL, KOMPAS.com
Kantor berita resmi Korea Utara (Korut), KCNA, Minggu (15/3), melaporkan, pernyataan tersebut disampaikan saat pemimpin Korut itu menyaksikan salah satu unit artilerinya melakukan latihan penembakan dengan peluru sesungguhnya, di sebuah lokasi yang tidak disebutkan.
”Benteng sosialis kita kokoh dan semangat revolusioner kita akan terus meraih kemenangan demi kemenangan karena kita mempunyai para elite-elite yang seperti baja,” ungkap Kim.
Korut telah memberitahukan badan-badan penerbangan dan maritim internasional mengenai rencana meluncurkan sebuah satelit komunikasi, 4-8 April.
Korea Selatan (Korsel) dan AS mengatakan peluncuran itu adalah sebuah selubung dari uji coba peluru kendali (rudal) Taepodong-2, yang secara teknis mampu menjangkau Alaska, Amerika Utara. Peluncuran itu akan menjadi uji coba rudal jarak jauh Korut ketiga sejak 1998.
Menjelang peluncuran itu, Korut sejak Senin (9/3) mematikan jaringan telepon dan faksimile militer yang digunakan untuk menyetujui aktivitas melintas perbatasan Korut-Korsel. Korut juga menyiagakan 1,2 juta personel militernya untuk siap tempur, untuk memprotes latihan militer bersama Korsel-AS yang sedang berlangsung. Korut menganggap latihan militer yang diikuti puluhan ribu tentara itu ditujukan sebagai persiapan untuk ”perang Korea kedua”.
Perbatasan kedua Korea pun resmi ditutup mulai Jumat (13/3) hingga Minggu (15/3). Hal itu membuat ratusan pekerja Korsel tertahan di Korut.
Menteri Unifikasi Korsel Hyun In-taek mendesak Korut agar mengizinkan para pebisnis untuk bisa melakukan perjalanan dengan bebas, menuju dan dari Korsel ke kawasan industri Kaesong yang dibiayai Korsel, di utara perbatasan.
Kementerian Unifikasi Korsel melaporkan, 427 orang tidak diizinkan kembali ke rumah dari Kaesong, Jumat (13/3) dan Sabtu (14/3). ”Tindakan sepihak Korut seperti ini bukan hanya melecehkan kesepakatan antar-Korea, tetapi juga melanggar regulasi Korut sendiri,” ujar Hyun.
Sementara di Pyongyang, militer dan partai berkuasa Korut semakin meningkatkan kampanye untuk mengangkat salah satu dari tiga putra Kim Jong Il sebagai calon pengganti pemimpin Korut tersebut.
Surat kabar Jepang,
Meski sepaham para calon pengganti harus dari garis keturunan Kim, perbedaan mencuat mengenai anak Kim yang mana yang harus diorbitkan. Ketiga anak Kim, Jong Nam (37), Jong Chul (27), dan Jong Un (25), sama-sama berpeluang menjadi pengganti ayahnya.