SEOUL, KOMPAS.com -
Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mengutip sumber di intelijen yang tidak disebutkan namanya, melaporkan, Korea Utara (Korut) telah memberi tahu IMO koordinat peluncuran satelit, yaitu di Laut Jepang antara Semenanjung Korea dan Jepang.
Kantor berita Korut, KCNA, melaporkan, Pyongyang telah memberi informasi untuk navigasi pesawat dan kapal kepada badan-badan dunia sebagai bagian dari persiapan peluncuran Kwangmyongsong-2, sebuah ”satelit komunikasi eksperimental”. KCNA juga melaporkan bahwa Korut telah bergabung dengan traktat dan konvensi internasional tentang pemanfaatan ruang angkasa secara damai.
Meskipun Korut menyatakan akan meluncurkan satelit, negara-negara di kawasan mencurigai peluncuran itu hanyalah kedok atas peluncuran rudal jarak jauh yang secara teori bisa mencapai Alaska, AS. Rudal jarak jauh Taepodong-2 masih tersimpan di dalam ruangan, tetapi sekali terpasang di landasan peluncuran hanya diperlukan 7-10 hari untuk meluncurkannya ke sasaran.
Para pakar menyebutkan, hanya ada perbedaan kecil secara teknis antara peluncuran satelit dan peluncuran rudal jarak jauh. Keduanya tetap memakai roket yang sama. ”Peluncuran rudal memerlukan teknologi tambahan karena rudal harus bisa masuk kembali ke atmosfer,” kata seorang analis pertahanan yang menolak disebutkan namanya.
Pada masa lampau, Korut pernah memalsukan peluncuran satelit guna menyembunyikan pengembangan rudal. Tahun 1998, Korut mengklaim meluncurkan satelit ke orbit saat sebuah rudal yang gagal diuji coba jatuh dekat Jepang. Tahun 2006, Korut juga meluncurkan rudal Taepodong, tetapi meledak.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) kemudian mengeluarkan resolusi yang melarang Korut meluncurkan rudal pada masa mendatang. Korsel dan AS menilai rencana peluncuran satelit oleh Korut melanggar resolusi DK PBB.
Jepang menyatakan tidak akan menoleransi tindakan Korut yang bisa meningkatkan ketegangan regional. ”Jepang tidak akan membiarkan Korut meningkatkan ketegangan di kawasan. Pemerintah Jepang mendesak Korut menahan diri,” kata Yasuhisa Kawamura dari Kementerian Luar Negeri Jepang.
Menlu AS Hillary Clinton, Rabu, mengatakan, AS, China, dan mitra dialog Korut lainnya bersedia untuk membahas sejumlah respons atas peluncuran rudal Korut. ”Kami terbuka dalam penentangan soal peluncuran rudal Korut. Setiap anggota pembicaraan enam pihak akan berupaya untuk membujuk Korut agar tidak melanjutkan (uji coba),” ujar Hillary.
