WASHINGTON,KOMPAS.com-Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Selasa (10/3), menyerukan dilakukannya koordinasi global untuk menjamin bantuan pangan bagi negara-negara termiskin di dunia di saat krisis ekonomi makin mendalam.
Obama mengeluarkan imbauan itu saat dia bertemu dengan Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-moon, dalam pembicaraan mereka pertama kalinya di kantor kepresidenan Ruang Oval di tengah-tengah kian meluasnya keprihatinan terhadap dampak krisis tersebut pada negara-negara berkembang.
"Kami membahas mengenai krisis ekonomi dan bagaimana dampaknya, bukan hanya soal negara-negara maju namun juga negara-negara sangat miskin di seluruh dunia," kata Obama.
Presiden menambahkan, bahwa krisis tersebut berpotensi mengancam pasokan pangan jika terus berlanjut dan memburuk, dan menyebutkan keinginan untuk melakukan ’koordinasi internasional.’ Keadaan negara-negara termiskin di dunia pada saat dunia menghadapi kemerotan ekonomi terburuk selama beberapa generasi ini diperkirakan akan menjadi agenda konferensi tingkat tinggi (KTT) G-20 negara-negara maju dan negara-negara berkembang, di London awal April depan.
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, yang mengunjungi Obama di Washington pekan lalu, mengatakan dia akan mendesak G-20 untuk membentuk dana Bank Dunia untuk membantu melindungi dari dampak krisis di negara-negara yang paling rentan.
Bank Dunia mengatakan dalam pengkajian yang diterbitkan Minggu, bahwa negara-negara berkembang menghadapi masalah kekurangan keuangan 270 sampai 700 miliar dollar dalam tahun ini. Hal itu terjadi pada saat kreditor sektor swasta mengelak muncul di pasar, dan hanya seperempat dari negara-negara yang paling rentan itu yang bisa menahan laju meningkatnya kemiskinan, kata Bank Dunia dalam pernyataannya.
"Kami ingin mengatasi meningkatnya krisis ini secepatnya karena hal itu membuat rakyat di negara berkembang menderita," kata Presiden Kelompok Bank Dunia Robert Zoellick. Zoellick pada Februari lalu menyerukan dikumpulkannya dana, bagi masing-masing negara maju menyumbang 0,7 persen dari paket stimulusnya untuk membantu negara-negara miskin.
