Rabu, 23 Juli 2014

News / Internasional

Anggota Pasukan Garuda Tewas di Kongo, Leher Kena Gerinda

Selasa, 3 Maret 2009 | 09:07 WIB

MAGETAN,SELASA — Serda Suprayitno (27), anggota Kontingen Garuda XX-F, tewas akibat kecelakaan kerja saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo, Afrika Selatan, 23 Februari lalu. Jenazahnya tiba di rumah duka di Desa Garon, Kawedanan, Kabupaten Magetan, Senin (2/3).

Setelah meninggal, pangkat Suprayitno naik menjadi Sersan Satu Anumerta. Jenazahnya dikebumikan secara militer di Taman Makam Pahlawan Yudonegoro, Magetan.

Korban adalah anggota TNI AD Yon Zikon 13, Menzikon Ditziad, Jakarta. Sebenarnya Suprayitno akan pulang pada Desember 2009 nanti setelah bertugas selama setahun.

Orangtua Suprayitno sangat sedih. Ibu almarhum, Yatmini (42), pingsan dan berteriak-teriak histeris. Apalagi, korban baru saja bertunangan dengan gadis tetangga desa dan berencana akan menikah sepulang dari tugas di Kongo, Desember 2009 mendatang.

Menurut informasi, Suprayitno tewas mengenaskan saat memperbaiki sebuah alat berat mekanik menggunakan sebuah gerinda (gergaji besar). Gerinda itu putus kemudian mengenai leher korban sehingga memimbulkan luka sayatan sedalam tiga cm sekaligus memutuskan urat arteri korban.

Ayah almarhum, Darmo Juri (45), mengatakan, pihak keluarga berusaha menerima kepergian almarhum dengan ikhlas. Dia juga menjelaskan bahwa Suprayitnolah yang selama ini menopang perekonomian keluarganya. “Anak saya seorang pahlawan. Ia gugur dalam tugas negara untuk mewujudkan perdamaian dunia,” katanya sambil terisak.

Menurut dia, kabar kematian anaknya diterima oleh keluarga satu pekan yang lalu, 23 Februari, akibat kecelakaan kerja. Anggota Kontingen Garuda XX-F di Kongo yang ikut mengantar jenazah hingga ke rumah duka, Kapten Filda Malari, mengemukakan, saat itu almarhum sedang membersihkan peralatan dengan gerinda listrik di Bengkel Camp Dungu, Kongo.

“Dia hendak menghaluskan hasil penyambungan pipa Bomb Jack Loader. Namun tiba-tiba dia terjatuh dengan luka di bagian leher sebelah kanan. Luka itu akibat pecahan piringan gerinda yang lepas dan menancap sedalam tiga sentimeter di leher,” katanya.

Menurut Kapten Filda, tancapan pecahan piringan gerinda tersebut memutuskan pembuluh arteri almarhum sehingga tidak tertolong lagi. Selain itu, Suprayitno juga mengalami patah tulang di dagu. “Kami sudah berkoordinasi dengan tim dokter di rumah sakit setempat untuk menyelesaikan masalah putusnya pembuluh arteri tersebut, namun sangat sulit,” jelas Kapten Filda Malari, yang
saat di rumah sakit di Kongo ditemani rekan lain, Kopda Parmin.

Komandan Yon Zikon 13 Jakarta Letkol Zainal Muhtar, yang memimpin upacara pemakaman jenazah, juga menjelaskan bahwa korban meninggal karena kecelakaan kerja. Menurutnya, korban baru melaksanakan tugas di Kongo selama tiga bulan terakhir.

Rencananya korban akan melaksanakan misi perdamaian PBB di Kongo bersama 180 anggota pasukan dari Indonesia selama satu tahun penuh. Muhtar menjelaskan, selama bertugas menjadi anggota TNI AD, korban memiliki banyak prestasi, di antaranya mendapat Satya Lencana Aceh, Sakti Dharma, dan Medali Kongo.

“Almarhum merupakan salah satu prajurit terbaik kami. Maka dari itu, semua pihak yang merasa kehilangan hendaknya dengan ikhlas menerima kepergiannya. Almarhum telah gugur dalam tugas negara,” katanya, saat upacara pemakaman secara militer di Taman Makam Pahlawan Yudonegoro, Magetan.

Selama menjadi anggota TNI, almarhum–lulusan Secaba Prajurit Karir Gelombang IV Pusdik Jember tahun 2002–telah ditugaskan di Aceh dan Kongo sampai mengembuskan napas terakhir. Dia adalah anak sulung dari dua bersaudara. (st14)


Editor :
Sumber: