DHAKA, JUMAT — Lebih dari 130 perwira militer yang disandera oleh pasukan perbatasan Bangladesh (BDR) di markas besar mereka di Dhaka sampai Jumat (27/2) tetap tidak diketahui nasib mereka. Adapun pemberontakan berdarah oleh pasukan itu berakhir dengan lebih 100 orang tewas, termasuk komandannya. Hal itu dikatakan para pejabat.
Jumlah korban tidak dapat dikonfirmasikan secara resmi, tetapi sumber-sumber keamanan mengatakan bahwa mereka khawatir jumlah itu lebih dari 100 orang. Sementara itu, sekitar 130 perwira tetap tidak diketahui nasib mereka. Pencarian dilakukan Kamis malam terhadap mayat-mayat di markas besar BDR di Pilkhana, Dhaka.
Mereka yang selamat mengonfirmasikan kematian panglima BDR Mayor Jenderal Shakil Ahmed dalam serangan pemberontak di satu darbar atau pertemuan para serdadu dengan para perwira senior. "Empat tentara melompat ke depan dan membunuh Ahmed seketika di saat ia melangkah keluar ruang pertemuan ketika pemberontakan dimulai Rabu," kata Letkol Syed Quamruzzaman kepada wartawan, Jumat pagi.
Batalyon Polisi Bersenjata dan satuan-satuan Polisi Metropolitan menguasai markas besar pasukan penjaga perbatasan di Pilkhana setelah para tentara yang memberontak menyerahkan senjata-senjata mereka dan kembali ke barak-barak.
Polisi yang melakukan pencarian bersama dengan para petugas dinas pemadam kebakaran, Kamis malam, menemukan tujuh mayat lagi. "Para pemberontak menembak mati siapa saja yang mereka inginkan. Saya ditembak tujuh kali dan untung selamat," kata Quaruzzaman.
Sebelumnya, para pejabat mengatakan 24 tentara yang disandera dan keluarga yang terkurung diselamatkan ketika tentara yang memberontak menyerahkan senjata mereka. Seorang menteri sebelumnya mengatakan, 50 perwira kemungkinan tewas.
Seorang anggota parlemen dari Partai Jatiya pimpinan mantan presiden dan diktator militer Hussain Muhammed, yang memasuki markas besar di Pilkhana itu, lokasi pemberontakan, mengatakan bahwa ia mengunjungi rumah Mayjen Ahmed dan rumah itu dijarah. Ia melihat satu mayat yang tidak dikenal tergeletak di sana.
Para tentara yang memberontak menyerah setelah Perdana Menteri Sheikh Hasina memperingatkan bahwa mereka menempuh satu jalan "bunuh diri" yang hanya dapat diakhiri dengan pertumpahan darah.
Segera setelah pidatonya, tank-tank militer mengepung markas besar BDR yang terletak di tengah kota Dhaka dan berjaga-jaga dekat kediaman perdana menteri.
Menghadapi kemungkinan satu operasi militer, tentara-tentara yang memberontak meletakkan senjata mereka dan membebaskan para sandera. Hasina telah menawarkan amnesti kepada para pemberontak itu dan juga berjanji akan mempertimbangkan keluhan-keluhan mereka menyangkut gaji rendah dan kondisi kerja.
