JERUSALEM, JUMAT — Dua roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza mendarat di Israel Selatan, Jumat (6/2), tetapi tidak ada korban atau kerusakan properti. Demikian dikatakan militer Israel.
Gencatan senjata yang goyah mengakhiri serangan militer 22 hari Israel di Gaza pada 18 Januari. Serangan itu bertujuan untuk menghukum gerakan Hamas yang menguasai Jalur Gaza karena melakukan serangan roket lintas perbatasan dari daerah pantai Palestina itu. Israel menanggapi serangan di masa lalu dengan melancarkan serangan udara.
Seorang juru bicara militer Israel mengatakan, roket-roket itu ditembakkan dari Jalur Gaza Utara. Seorang juru bicara PM Ehud Olmert memperingatkan bahwa Hamas sedang bermain api dengan terus melancarkan serangan roket. "Tampaknya Hamas dengan sengaja merusak peluang yang tenang di selatan. Mereka bermain api," kata Mark Regev.
Israel menyatakan, Hamas bertanggung jawab atas semua serangan dari Gaza. Akan tetapi, para pejabat di negara itu mengakui bahwa kelompok pejuang yang lebih kecil dipersalahkan atas serangan roket baru-baru ini.
Mesir berusaha dalam beberapa hari menjamin gencatan senjata yang kekal antara Israel dan Hamas, keduanya menolak melakukan perundingan langsung. Namun, para diplomat mengatakan, usaha-usaha Mesir menjadi sulit akibat Israel dan Hamas yang tidak menyetujui menyangkut sifat dasar dan luas perjanjian gencatan senjata itu.
Seorang pejabat Palestina yang dekat dengan perundingan itu mengatakan satu hambatan besar bagi Hamas adalah tuntutan Israel mengawasi penuh atas barang-barang yang dapat masuk ke Jalur Gaza melalui tempat-tempat penyeberangan yang Hamas ingin buka secara penuh sebagai bagian dari setiap perjanjian.
Israel ingin mengawasi tempat-tempat penyeberangan untuk mencegah Hamas menerima barang-barang yang dapat digunakan untuk membuat roket.
Pejabat itu mengatakan, Mesir mendesak agar perjanjian dicapai sebelum pemilihan parlemen Israel, Selasa. Partai oposisi Likud berhaluan kanan pimpinan Benjamin Netanyahu diduga akan menang dalam pemilihan tersebut.
