ACEH TIMUR, SELASA — Sebanyak 198 pengungsi Rohingya asal Myanmar yang terombang-ambing di lautan selama 21 hari tanpa makanan dan minuman diselamatkan nelayan asal Kuala Idi, Aceh Timur, Senin (2/2) sekitar pukul 14.00 di perairan Selat Malaka.
Para pengungsi Rohingya ini menumpang sebuah perahu tanpa mesin berukuran panjang 13 meter dan lebar empat meter. Oleh kapal nelayan Sepakat, perahu pengungsi Rohingya tersebut ditarik hingga menuju Pos Keamanan Laut Kuala Idi. Butuh waktu sekitar 12 jam menarik perahu pengungsi tersebut dari tengah laut ke daratan.
" Kami menemukan mereka di tengah laut sekitar pukul 14.00 hari Senin, dan baru sampai ke daratan setelah kami tarik sekitar pukul 02.00 dini hari Selasa," ujar Abu Bakar, salah seorang nelayan yang ikut menyelamatkan para pengungsi ini.
Saat ditemukan, menurut Abu Bakar, para pengungsi Rohingya ini terlihat sangat letih dan lemas saat ditemukan. Bahkan 21 orang di antaranya langsung menceburkan diri ke laut begitu melihat kapal nelayan di dekatnya. Mereka berenang ke arah kapal nelayan untuk meminta makanan dan minuman. "Kondisi mereka sangat mengenaskan saat kami temukan," kata Abu Bakar.
Sesampai di darat, sebanyak 190 pengungsi langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Idi Rayeuk. Sisanya ditempatkan di Kantor Kecamatan Idi Rayeuk. Menurut salah seorang pengungsi, Rahmat, mereka adalah bagian dari ratusan orang Rohingya yang sengaja dibuang ke tengah laut oleh aparat Thailand.
Rahmat menuturkan, orang-orang Rohingnya ini sebenarnya adalah imigran ilegal di Thailand. Mereka ditangkap aparat Thailand dan ditahan di sebuah pulau yang terletak di perairan Andaman.
"Kami tak tahan dengan perlakuan Pemerintah Myanmar. Mereka tak memperbolehkan kami bekerja selain sebagai nelayan, petani, dan penebang pohon. Kami terpaksa mencari pekerjaan ke luar Myanmar," katanya.
Menurut Rahmat, kebanyakan orang Rohingya pergi ke Thailand atau Bangladesh yang memang berdekatan dengan kota tempat asal mereka, Arkan Mgowdow di Utara Myanmar.
"Kami pergi tanpa paspor dan dokumen resmi. Di Thailand, kami jadi imigran gelap. Saya baru satu setengah bulan kerja di Thailand, sebelum ditangkap sama polisi," katanya.
Dia bersama ratusan orang Rohingya lainnya ditahan di pulau yang memang diperuntukkan bagi imigran gelap Rohingya. Di pulau tersebut, menurut Rahmat, Pemerintah Thailand memperlakukan orang-orang Rohingya tak manusiawi.
" Kami hanya diberi jatah makan dan minum sekali sehari. Kalau kami minta, mereka sering memukuli kami," ujarnya. Dia menceritakan, sejak bulan Desember, ratusan orang Rohingya dipaksa pergi oleh Pemerintah Thailand dari pulau tempat mereka ditahan.
Polisi Thailand hanya menyediakan perahu tak bermesin sebagai alat transportasi. Perahu ini sangat kecil sehingga tak sedikit pun tersisa ruangan untuk beristirahat.
"Perahu yang kami tumpangi ditarik dengan tali oleh kapal polisi Thailand hingga dua sampai tiga hari perjalanan di laut. Setelah itu, talinya diputus dan kami dibiarkan terombang-ambing di lautan," ujarnya.
Rahmat dan rombongannya hanya dibekali nasi secukupnya dan satu liter air untuk setiap orang. Bekal yang menurut Rahmat hanya tahan selama dua minggu di tengah laut. Ada 22 orang yang meninggal selama 21 hari mereka terombang-ambing di lautan. "Kami buang mayat teman-teman kami ke laut," ujar Rahmat.
