KABUL, SENIN - Serangan bom mobil bunuh diri terhadap konvoi pasukan Perancis di Kabul, ibukota Afghanistan, Minggu (1/2), mencederai tiga orang, termasuk seorang prajurit. Gerilyawan Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom di daerah pinggiran barat daya itu.
Bom itu meledak di dekat konvoi pasukan Perancis yang membantu melatih Tentara Nasional Afghanistan. "Satu kendaraan militer rusak dan seorang prajurit Perancis cedera ringan. Ia tidak memerlukan perawatan di rumah sakit," kata juru bicara militer Perancis Letnan Kolonel Jerome Salle .
Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan, dua warga sipil juga cedera dalam pemboman itu. Kedua korban sipil itu terdiri seorang pria dewasa dan seorang anak.
Mobil yang digunakan untuk melakukan serangan itu hancur, dan hanya blok mesin yang tersisa. Bagian-bagian kendaraan dan tubuh penyerang berhamburan di jalan, yang mengarah ke provinsi Wardak dan kemudian Logar - dua wilayah yang di masa silam digunakan sebagai tempat persiapan penyerangan militan ke Kabul.
Terdapat sekitar 2.800 prajurit Perancis di Afghanistan sebagian di antaranya merupakan bagian Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang membantu memerangi pemberontakan dan menyusun pasukan Afghanistan. Sekitar 300 prajurit Perancis terlibat dalam pelatihan tentara Afghanistan.
Banyak dari mereka berpangkalan di provinsi Kapisa, sebelah timur laut Kabul.
Serangan-serangan bunuh diri menjadi hal yang sudah biasa terjadi di Afghanistan dan sebagian besar diklaim oleh Taliban.
Serangan terakhir di Kabul terjadi dua pekan lalu di sebuah jalan antara Kedutaan Besar Jerman dan sebuah pangkalan militer Amerika. Empat orang Afghanistan dan seorang prajurit AS tewas dalam serangan itu.
Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom-bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut. Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.
