SEOUL, JUMAT — Perjanjian pengikisan militer Korea Utara dengan Korea Selatan hanya menunjukkan bahwa Pyongyang frustrasi atas gagalnya diplomasi panasnya. Boleh jadi, perjanjian itu mengindikasikan negara tersebut pada akhirnya mempelajari suatu pelajaran, kata seorang pejabat pada kantor kepresidenan Seoul di sini, Jumat (30/1).
Pada Jumat pagi, seorang juru bicara Komite Utara untuk Reunifikasi secara Damai Korea mengatakan bahwa Pyongyang tak lama lagi akan menghargai perjanjian-perjanjian militer di masa lalu antara kedua Korea, dan akan mengabaikan Jalur Terbatas Utara (NLL) di Laut Kuning.
Namun, pejabat itu mengatakan, deklarasi tersebut akan sedikit meningkatkan ketegangan jika negara komunis itu melakukan tindakan. "Bahkan jika Utara melakukan tindakan, hal itu tidak akan menjadi ancaman bagi kami, karena kami akan menghadapi tindakan-tindakan tersebut," kata pejabat itu, yang bidang tugasnya berkaitan dengan masalah-masalah Korea Utara, dan minta namanya tidak disebutkan karena masalah tersebut dianggap isu sensitif.
Sengketa-sengketa NLL Korea Utara, yang membuat pasukan Komando Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pimpinan AS menarik diri secara sepihak pada akhir Perang Korea 1950-53, menandaskan bahwa pihaknya harus segera mundur lebih juah ke selatan.
Kedua Korea terlibat dua kali pertempuran laut yang mematikan di sepanjang garis perbatasan laut pada tahun 1999 dan 2002.
Pejabat itu mengatakan, Pyongyang hanya mengulang apa yang selalu mereka lakukan manakala pihaknya ingin sesuatu dari Korea Selatan. "Selama 10 tahun, mereka telah mendapatkan apa pun yang mereka inginkan melalui ancaman-ancaman seperti ini, dan mereka bersikap tidak bersedia melepaskan kebiasaannya itu," ujarnya.
"Pemerintah telah bekerja untuk membuat mereka menyadari bahwa pemerintahan ini bukanlah pemerintah yang lemah, dan itu akan terus dilakukan," ujarnya.


