KOTA KUWAIT, SENIN — Konferensi tingkat tinggi (KTT) ekonomi pertama Arab diselenggarakan di ibu kota Kuwait, Senin (19/1), dengan pusat perhatian pada situasi di Jalur Gaza dan seruan bagi persatuan di dunia Arab guna menyelesaikan krisis di Jalur Gaza.
KTT ekonomi tingkat tinggi itu dihadiri oleh 17 kepala negara di kalangan 22 anggota Liga Arab, serta Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, dengan slogan "Dalam Solidaritas bagi Rakyat Palestina di Gaza".
Dalam pidato pembukaan KTT yang disiarkan langsung, tuan rumah Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber as-Sabah mengutuk serbuan 22 hari Israel ke Jalur Gaza sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. Ia memuji perlawanan rakyat Palestina untuk mempertahankan kedaulatan manusia dan hak alamiah mereka untuk mendirikan negara merdeka.
Dunia Arab mendukung saudara Palestina mereka dalam perlawanan mereka terhadap agresi Israel, demikian janji Sheikh as-Sabah. Ia menyerukan penerapan segera dan tanpa syarat Resolusi 1860 PBB guna melicinkan jalan bagi penarikan penuh dan tanpa syarat Israel dari semua wilayah pendudukan dan pencabutan blokade atas Jalur Gaza.
Emir Kuwait tersebut mengumumkan bahwa Kuwait akan menyumbang 34 juta dollar AS untuk memungkinkan Badan Pekerjaan dan Pertolongan PBB (UNRWA) memasok keperluan mendesak rakyat Palestina.
Presiden Suriah Bashar al-Assad juga berbicara pada pertemuan tersebut, dan menyatakan gencatan senjata sepihak yang diumumkan Israel tak berarti berakhirnya kerusuhan serta menambahkan selama tentara Israel tetap berada di Jalur Gaza, takkan ada akhir kerusuhan.
Ia menyerukan negara Arab agar mendukung rakyat Palestina di Jalur Gaza dalam perjuangan mereka untuk meraih hak politik dan militer terhormat mereka, dengan bantuan bagi pembangunan kembali daerah kantung miskin itu.
Presiden Mesir Hosni Mubarak berjanji akan melanjutkan upaya guna memperpanjang gencatan senjata antara rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Israel serta membantu tercapainya perujukan di kalangan rakyat Palestina.
Ia menyatakan, Mesir telah melakukan upaya besar guna mendukung rakyat Palestina sejak dilancarkannya serangan Israel ke Jalur Gaza, termasuk gagasan gencatan senjata, menyerahkan bantuan ke dalam wilayah Jalur Gaza, mengizinkan orang Palestina yang cedera dirawat di rumah sakit Mesir, dan memfasilitasi perujukan Palestina.
Mesir menghormati perlawanan rakyat Palestina terhadap serbuan dan hak mereka guna memerangi pendudukan, dan "kita memerlukan penyelesaian praktis guna mengakhiri pembunuhan rakyat Jalur Gaza, bukan hanya pernyataan pengutukan terhadap serangan Israel", kata Mubarak.
Presiden Mesir tersebut juga menyeru Israel untuk secara sungguh-sungguh mempertimbangkan gagasan perdamaian Arab karena mewujudkan perdamaian di Timur Tengah adalah keperluan mendesak.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, sewaktu mendesak penarikan semua tentara Israel dari daerah kantong Palestina itu, menyeru Hamas agar menghentikan serangan roket dan mortir ke Israel selatan. Itu adalah langkah pertama untuk mewujudkan gencatan senjata di Jalur Gaza, katanya.
Ban juga mendesak diciptakannya sistem yang efisien di tempat penyeberangan perbatasan Jalur Gaza guna memungkinkan masuknya bantuan, dan menggaris-bawahi perlunya bagi rakyat Palestina agar rujuk untuk membentuk pemerintah persatuan di bawah Presiden Mahmoud Abbas.
