Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:49 WIB
Michelle Tak Sekadar "Mom-in-chief"
| Kamis, 15 Januari 2009 | 07:48 WIB
|
Share:

AP PHOTO/M.SPENCER GREEN
Presiden AS terpilih, Barack Obama, dan istrinya, Michelle, serta dua putri mereka, Malia dan Sasha, di balik guntingan kertas warna-warni yang bertaburan di Chicago, Illinois, AS, November 2004. Obama, Michelle, Malia, dan Sasha akan menghuni Gedung Putih di Washington DC seusai Obama dilantik sebagai Presiden ke-44 AS pada 20 Januari 2009.

TERKAIT:

Tidak lama lagi, keluarga Presiden AS terpilih, Barack Obama, akan menghuni Gedung Putih. Bagi istri Obama, Michelle, ini akan menjadi saat baginya menjadi lebih dari sekadar "mom-in-chief".

Tiga hari setelah ulang tahun ke-45, Michelle akan mendampingi sang suami saat dilantik sebagai presiden ke-44 AS. Michelle akan menjadi ibu negara termuda sejak Jackie Kennedy yang berusia 31 tahun saat mendampingi suaminya, John F Kennedy.

Sejak awal, Michelle menekankan bahwa pekerjaan utamanya sebagai ibu negara adalah "mom-in-chief" bagi kedua putrinya, Malia (10) dan Sasha (7). ”Meskipun menjadi ibu negara, tugas nomor satu saya masih tetap menjadi ibu,” katanya kepada wartawan sebelum Obama memenangi pemilu 4 November 2008.

”Pekerjaan utama saya adalah memastikan kedua putri kami tetap sehat, dengan masa kanak-kanak yang normal, termasuk tetap mengerjakan pekerjaan rumah, menari, dan sepak bola,” tutur Michelle, seperti dikutip AFP, Rabu (14/1).

Michelle mengatakan, secara resmi dia tidak memiliki ambisi politik sendiri. Pekan ini, dia resmi mundur dari jabatannya sebagai wakil presiden pada pusat kesehatan University of Chicago, tempat dia bekerja selama tujuh tahun.

Namun, peran Michelle mungkin berubah di bulan-bulan mendatang saat dia sudah resmi menghuni Gedung Putih. Bahkan, sebelum pindah ke Gedung Putih, Michelle telah menunjukkan bahwa dia berminat meneruskan tradisi suaminya soal kerja komunitas, mendorong orang lain membantu sekitar mereka melalui proyek sukarela.

Dalam situs tim transisi Obama disebutkan, Michelle ingin meneruskan isu yang dekat di hatinya, seperti mendukung keluarga militer, membantu kaum perempuan menyeimbangkan kerja dan keluarga, serta mendorong pelayanan nasional.

Menurut ahli sejarah, Robert Watson, tantangan terbesar bagi Michelle adalah dia akan memainkan banyak peran. ”Dia akan menjadi istri, ibu, dan ibu negara. Saya rasa Michelle Obama lebih siap untuk menghadapi tantangan itu dibandingkan ibu negara lainnya dalam sejarah. Soalnya, dia adalah jenis ’perempuan super’,” kata Watson.

Pusat perhatian


Selain Michelle, putri-putri Obama juga menjadi pusat perhatian. Namun, sejak Obama memenangi pemilu, keduanya dijauhkan dari mata publik. Bahkan, hari pertama sekolah mereka di Sidwell Friends pada awal Januari tidak banyak diungkap.

Suatu ketika, Presiden Franklin D Roosevelt mengatakan, ”Salah satu hal terburuk di dunia adalah menjadi anak presiden. Mereka menjalani hidup yang mengerikan.”

Anak-anak presiden akan sulit melarikan diri dari publikasi, apalagi di zaman sekarang yang dikelilingi media, kamera, dan YouTube selama 24 jam. Oleh karena itu, keluarga presiden cenderung sangat protektif terhadap anak-anak mereka.

Michelle menekankan bahwa kedua putrinya tidak boleh manja dan tetap menjalankan tugas rutin mereka untuk merapikan tempat tidur, menjaga kamar tetap rapi, dan tidur pukul 20.30.

Malia dan Sasha akan menjadi anggota Gedung Putih termuda sejak putra-putri Kennedy tinggal di tempat itu pada awal tahun 1960-an. (FRO)

 

Sumber :
Kompas Cetak