Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:43 WIB
Pusat Belanja di Kota Manado Penuh Sesak
Jean Rizal Layuck | Selasa, 23 Desember 2008 | 12:25 WIB
|
Share:

Kompas/Irma Tambunan
Dalam menyambut Natal, umat kristiani mulai menghiasi gereja dengan pohon dan goa natal. Pemasangan goa replika kelahiran Yesus di Gereja Santa Theresia Jambi, Senin (22/12).

TERKAIT:

 

 

MANADO, SELASA — Pusat-pusat belanja di Kota Manado penuh sesak diserbu masyarakat yang membelanjakan uangnya untuk kebutuhan Natal dalam sepekan belakangan ini. Beberapa pedagang mengaku omzet penjualan meningkat drastis sebesar 70-100 persen, bahkan di beberapa toko kehabisan stok.

Pemantauan Selasa (23/12), dua hari menjelang Natal konsumen membeludak di pusat-pusat belanja menjadikan sebagian ruas jalan di Kota Manado padat, bahkan pada siang hingga menjelang malam, Jalan Boulevard dan Sam Ratulangi macet total.

Sebagian konsumen berasal dari Kabupaten Minahasa, Bitung, dan Sangihe, bahkan banyak yang berasal dari Maluku Utara serta Gorontalo.

Pusat belanja Mega Mall, Manado Town Square (Mantos), Bahu Mall, Coco Market Karombasan serta Pasar 45 Manado menjadi kawasan favorit belanja masyarakat. Setiap hari kawasan itu dipenuhi ribuan konsumen yang memborong habis aksesori Natal, pakaian, dan minuman kaleng.

Wisye Rotinsulu, ibu rumah tangga mengeluh karena minuman Coca-Cola, Pepsi, dan Fanta yang menjadi minuman favorit di hari Natal melonjak menjadi Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per krat. Sebelumnya harga minuman ringan tersebut berkisar Rp 70.000.

Pengelola Mantos Rudini Wijaya mengatakan, lonjakan konsumen merupakan hal yang biasa setiap tahun, tetapi tahun ini cukup tinggi. "Konsumen sudah berbelanja sejak awal Desember dan terus bertambah hingga hari ini," katanya.

Menurut Rudini, pihaknya tetap menahan harga bahan pokok bahkan memberi diskon khusus untuk aksesori Natal. Ditambahkan, harga tekstil di Manado sekarang telah bersaing dengan harga di Jakarta. "Orang Jakarta sendiri terkecoh melihat harga tekstil yang kami jual," katanya.

Pakar ekonomi regional, Dr Noldy Tuerah, mengatakan, terjadinya lonjakan pembelian kebutuhan Natal tahun ini sangat dipengaruhi oleh naiknya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang kini tercatat 7,8 persen.

Menurutnya, mereka yang belanja sekarang tidak hanya didominasi oleh pegawai negeri, tetapi oleh kalangan petani yang mendapat untung dari penjualan komoditas pertanian dan perkebunan. "Persoalan lain, kebiasaan belanja warga Sulut cukup tinggi dibanding daerah lain, apalagi untuk kebutuhan Natal," katanya.