Menurut Eni (44), ibunda Diana (22), bukan nama sebenarnya, anaknya tidak mengerti masalah seperti itu karena kondisi mentalnya. ”Jangankan masalah pemerkosaan, untuk menghitung uang dan menulis saja dia tidak bisa,” kata Eni, warga Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Dalam penampilannya, Diana tidak tampak mempunyai keterbelakangan mental. Tubuhnya yang tinggi dan langsing membuat Diana tampak cantik.
Pada Jumat malam sekitar pukul 20.00, Diana minta izin ke warung dekat rumah. Rupanya ketika keluar rumah, Diana diajak pergi oleh Nita, salah seorang tetangganya, ke daerah Klender.
Di sana, Diana dikenalkan oleh tiga laki-laki yang sebelumnya tidak pernah berjumpa. Ketiga laki-laki itu adalah CS (23), Fhm (28), dan Rbn (15). Setelah itu, Nita meninggalkan Diana sendiri bersama ketiga laki-laki pengangguran itu.
”Dia mengaku diberi makan nasi goreng dan diberi minuman. Setelah itu baru diperkosa bergiliran,” tutur Eni yang masih shock atas musibah yang menimpa putri sulungnya.
Keluarga Eni yang panik karena Diana tidak pulang-pulang, mencari hingga subuh. Pagi hari sekitar pukul 09.00, ayah Diana tanpa sengaja bertemu anaknya yang sedang diantar pulang oleh CS dengan motor. CS pun langsung ditangkap.
Untuk menangkap Fhm dan Rbn, polisi yang dipimpin Ajun Komisaris Grace Harianja, Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Metro Jakarta Timur, mencoba memancing mereka dengan uang. Dengan diiming-imingi uang Rp 50.000, keduanya keluar dari persembunyian di rumah kos CS dan segera ditangkap. (ARN)
