Dalam dua hari terakhir, polisi Thailand terlihat berjaga-jaga penuh di markas Partai Demokrat. Kemarin di markas itu tengah digelar pertemuan untuk membentuk kabinet baru.
”Polisi telah mengerahkan pasukan di markas Partai Demokrat sejak Senin. Pagi ini kami akan mengirim lebih banyak polisi ke tempat itu,” kata Mayor Jenderal Amnuay Nimmano, Wakil Komandan Kepolisian Metropolitan Bangkok, Selasa (16/12).
Di hadapan ratusan polisi, sekitar 40 pendukung pemerintahan lama yang promantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra menggelar protes. Mereka meletakkan karangan bunga dan mengecam Partai Demokrat sebagai boneka militer lalu meninggalkan tempat itu.
Tudingan itu bukan tidak beralasan. Saat kelompok antipemerintah menggelar protes, militer terkesan membiarkan dan tidak bertindak sesuai perintah status keadaan darurat.
Kini, begitu Partai Demokrat berkuasa, aparat keamanan langsung bersiaga mengamankan markas mereka.
Saat pemilihan PM baru digelar, Senin, polisi bentrok dengan kelompok pro-Thaksin di depan gedung parlemen. Banyak pendukung Thaksin merasa hak demokratik mereka dirampok setelah Pengadilan Konstitusi membubarkan Partai Kekuatan Rakyat (PPP) dan ”menurunkan” dua PM dari PPP sehingga membuka jalan bagi Partai Demokrat untuk berkuasa.
Sebelumnya, saat kelompok pemrotes antipemerintah menduduki Gedung Pemerintah, polisi tidak ”berani” mengusir mereka. Polisi bahkan tidak berani memasuki kompleks Gedung Pemerintah untuk menangkap pemimpin protes seperti diperintahkan pengadilan.
Saat Bandara Suvarnabhumi diduduki ribuan pemrotes dan keadaan darurat diberlakukan, lagi-lagi polisi dan militer tidak bertindak mengusir pemrotes. Puncaknya, PM (waktu itu) Somchai Wongsawat memecat Kepala Kepolisian Nasional Thailand Jenderal Pacharawat Wongsuwan karena gagal bertindak mengatasi pemrotes.
Pemerintahan Thaksin memang telah meminggirkan elemen elite tradisional di istana, militer, dan birokrasi. Popularitas Thaksin dinilai menggeser kekuasaan mereka. Wajar jika kemudian aparat keamanan pun enggan bertindak saat sekutu Thaksin berkuasa. Dengan PM Abhisit Vejjajiva yang lebih didukung elite tradisional Thailand, tampaknya wajar pula jika polisi dan militer langsung berdiri di belakangnya. (afp/fro)
